Bukit Lintang Sewu

2021-10-31 10.17.12 1.jpg
2021-10-31 10.50.43 1.jpg

Intip Keseruan Menikmati Fasilitas di Bukit Lintang Sewu

2021-10-31 10.21.33 1.jpg

Hai, Travelovers! Pernahkah kamu mendengar lirik lagu Jawa yang legendaris ini, "Yen ing tawang ana lintang, cah ayu. Aku ngenteni tekamu". Ya, lagu tersebut memang asing di kalangan milenial, tapi dari cuplikan lirik lagu tersebut saya memang ingin mengajak Travelovers untuk berkunjung ke Bukit Lintang Sewu. Hmm.. memangnya ada apa sih di Bukit Lintang Sewu? Sebagus itu kah? Yuk kita ulas sedikit mengenai fitur atau fasilitas yang tersedia di Bukit Lintang Sewu ini.

 

Letaknya yang strategis membuat destinasi ini memiliki daya tarik tersendiri yang khas jika dibandingkan dengan destinasi lainnya di sekitar hutan pinus Mangunan ini. Travelovers tidak perlu khawatir akan tersesat jika mengunjungi Bukit Lintang Sewu, tempat ini berlokasi di Desa Munthuk, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebuah desa yang juga kaya akan hasil alamnya. Dan juga kekreatifan penduduknya untuk menghasilkan sebuah kerajinan dari bahan alam yang ada di sekitar. Jika ditempuh dari pusat Kota Jogja kurang lebih akan memakan waktu 45 sampai 50 menit untuk sampai di Bukit Lintang Sewu. Travelovers bisa mengendarai motor ataupun mobil, dan tak perlu khawatir untuk lahan parkir, di sini telah disediakan fasilitas parkir yang luas dan teduh baik untuk motor maupun mobil.

 

Saat sampai di pintu masuk Bukit Lintang Sewu, Travelovers dipersilakan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Sebagaimana aturan dari pemerintahagar tetap menerapkan protokol kesehatan di manapun berada. Tak hanya semata-mata mematuhi protokol kesehatan, Travelovers, di sini kita juga sama-sama belajar untuk membiasakan diri hidup sehat dan bersih lho. Setelah mencuci tangan kemudian terdapat fitur scan barcode peduli lindungi. Ini juga merupakan aturan baru dari pemerintah untuk memberikan bukti bahwa pengunjung sudah divaksin minimal tahap pertama. 

 

"Ya.. di sini itu kalau menerapkan aplikasi peduli lindungi memang masih susah, karena sinyalnya di sini memang sulit".

 

Ya, percakapan di atas adalah jawaban dari Bapak Iril selaku pengelola Bukit Lintang Sewu ketika saya bertanya mengenai fitur terbaru yang diberlakukan hampir di seluruh tempat apapun itu, aplikasi peduli lindungi. Memang yang saya rasakan sendiri di kawasan Bukit Lintang Sewu ini sangat susah sinyal, apalagi ketika sudah masuk ke dalam. Maka untuk memberikan fitur scan barcode peduli lindungi tersebut masih sulit diterapkan di sini. Pak Iril sendiri juga menyarankan solusi kepada pemerintah, kalau ingin diterapkan peduli lindungi maka sinyal harus lancar, untuk mendukung kelancaran sinyal harusnya dibangun tower sinyal di sini.

 

Berlanjut ke fitur selanjutnya yaitu dalam hal ticketing. Pembelian tiket di sini masih menggunakan cara manual yaitu dibayarkan dengan uang cash lalu akan mendapatkan tiket. Harganya pun sangat terjangkau kisaran 5000 ribu rupiah saja. Dengan harga sekian, Travelovers sudah bisa menjelajahi dan menikmati keindahan Bukit Lintang Sewu sepuasnya tanpa batasan waktu. Melihat indahnya hamparan Kota Jogja dari atas ketinggian, menikmati segarnya udara hutan alami berbau khas kayu putih, dan hembusan angin menimbulkan suara gesekan antara dedaunan.

 

Spot yang paling unggul di Bukit Lintang Sewu ini adalah spot foto yang menyuguhkan pemandangan alam dan Kota Jogja. Terdapat sebuah panggung yang dibuat di pinggir sebagai sarana pengunjung jika ingin berfoto dengan background pemandangan alam ataupun hamparan kota jogja yang luas itu. Uniknya, panggung untuk berfoto ini tidak hanya digunakan untuk berfoto saja, namun juga digunakan sebagai panggung untuk beberapa acara pertunjukan yang pernah digelar di Bukit Lintang Sewu. Salah satunya pernah dipakai untuk pertunjukan seni sendratari khas Mangunan, Bantul, yaitu sendratari Nitik Siti Wangi. Sendratari Nitik Siti Wangi merupakan tarian asli daerah setempat.

 

Nah, ada yang unik lagi nih Travelovers dari sendratari Nitik Siti Wangi ini. Dinamakan Nitik Siti Wangi karena berkaitan dengan kisah sejarah di tempat ini pada zaman dahulu, saat Sultan Agung mencari segenggam tanah harum yang dilemparnya dari Makkah, Saudi Arabia. Sendratari Nitik Siti Wangi ini diciptakan oleh Bapak Ipung, selaku ketua dari Koperasi Noto Wono yang membawahi destinasi wisata Bukit Lintang Sewu. Sendratari Nitik Siti Wangi pernah dipertunjukkan di panggung Bukit Lintang Sewu saat acara perayaan maulid Nabi Muhammad SAW oleh masyarakat setempat. Rangkaian acaranya berupa kirab kemudian akan berhenti di satu lokasi yang ditunjuk dari beberapa destinasi wisata yang ada di Mangunan tersebut, kemudian di situlah ditampilkan seni pertunjukan tari Nitik Siti Wangi ini.

 

Selain fasilitas panggung untuk foto yang menjadi ikon utama tersebut, terdapat juga tempat berfoto lainnya nih Travelovers di bagian belakang. Dari sini pemandangan akan lebih terlihat luas dan jelas lho! Ada semacam gapura buatan yang dihias sedemikian rupa untuk objek berfoto agar terkesan lebih bagus. Di bagian belakang ini juga terdapat tempat duduk dan meja dari kayu yang sengaja dibuat untuk pengunjung jika ingin duduk bersantai saja.

 

Hmm.. rasanya kurang puas jika berwisata hanya berfoto-foto saja. Bagi Travelovers yang ingin merasakan suasana bermalam di Bukit Lintang Sewu, di sini tersedia fasilitas glamping dan camping ground lho! Apa sih perbedaannya? Nah, kalau konsep glamping atau glamour camping sendiri adalah salah satu bentuk perkemahan modern yang dipadukan dengan esensi alam dan dengan adanya fasilitas yang memadai. Beberapa fasilitas yang tersedia di glamour camping meliputi tempat tidur, listrik, kamar mandi, beranda depan/belakang, meja dan kursi santai, dan lain sebagainya. Sedangkan camping ground adalah istilah dari bumi perkemahan. Dimana nantinya Travelovers akan merasakan camping di alam dengan tenda yang sudah tersedia di sini. Tetapi fasilitasnya tidak sebanyak glamping, untuk camping ground sendiri hanya tersedia tenda, kasur angin untuk tidur, dan kamar mandi bersama. Jadi untuk konsep camping ground di sini memang seperti perkemahan pada umumnya, hanya saja diberikan kasur angin dan tenda yang sudah terpasang sehingga pengunjung tidak perlu membawa tenda sendiri. 

 

Untuk harga dari glamping atau glamour camping berkisar mulai dari Rp 600 ribuan dengan kapasitas isi maksimal adalah 6 orang. Sedangkan untuk camping ground berkisar mulai dari 250 ribuan dengan kapasitas isi maksimal 4 orang. Cukup terjangkau bukan? Dengan fasilitas pendukung tambahan yang disediakan, ditambah pula dengan pemandangan alam yang indah yang tak terlupakan, apalagi jika bersama pasangan.

 

Fasilitas umum lainnya yang terdapat di Bukit Lintang Sewu seperti toilet umum, musala, tempat parkir, warung makan, dan aula terbuka. Aula di sini diperuntukkan jika ada rombongan yang menginap kemudian mereka mengadakan acara tertentu, mereka biasanya menyewa aula terbuka ini untuk berkegiatan. Untuk harga sewanya berkisar Rp 300 ribu sekali sewa. Hal-hal tersebut tentunya untuk menunjang kebutuhan pengunjung agar dapat berwisata dengan aman, nyaman, dan berkesan. Di masa pandemi CoVid-19 Bukit Lintang Sewu belum sepenuhnya dibuka untuk umum secara luas, namun masih bertahap. Sembari memperbaiki beberapa fitur seperti contohnya penggunaan scan barcode aplikasi peduli lindungi yang masih terkendala sinyal di lokasi Bukit Lintang Sewu, di Desa Munthuk ini.

 

Gimana Travelovers, sudah tertarik untuk merasakan bermalam di glamping atau camping ground Bukit Lintang Sewu belum? Informasi lebih lengkap bisa dilihat di akun instagram @bukitlintangsewu ya!

 

See you on the next experience, Travelovers!

/Anjani Hayatunnufus – Peserta STIP Travelxism – Universitas Sebelas Maret/