• Travelxism

5 Fakta Unik Upacara Adat di Bromo yang Bikin Kamu Panjang Umur!


Travelovers, tahu nggak sih? Ada upacara adat yang bisa bikin panjang umur dan ternyata dilakukan di Kawah Gunung Bromo, lho!


Gunung Bromo yang terletak di Malang, Jawa Timur, menjadi destinasi pariwisata populer di Indonesia karena memiliki keindahan kawah gunung yang memikat para turis di dalam negeri maupun luar negeri. Selain menjadi pariwisata, ternyata Gunung Bromo juga dijadikan sebagai tempat upacara adat masyarakat sekitar. Upacara ini memiliki keunikan, di mana para masyarakat biasanya melempar hasil sesajen mereka ke kawah Gunung Bromo, lho! Upacara adat apakah itu?


Upacara Yadnya Kasada, merupakan ritual kurban ke kawah Gunung Bromo yang biasanya digelar setahun sekali setiap bulan Kasada hari ke-14, menurut penanggalan kalender Hindu Tengger. Upacara Yadnya Kasada ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Suku Tengger yang merupakan masyarakat asli kawasan wilayah kaki Gunung Bromo. Upacara ini dipercaya berguna untuk meminta umur panjang serta hidup yang sejahtera bagi masyarakat sekitar kawah Gunung Bromo.

Nah, kegiatan upacara tersebut ternyata memiliki fakta unik di dalamnya, lho, Travelovers! Untuk kamu yang belum tahu fakta unik upacara Yadnya Kasada ini, simak fakta uniknya di bawah ini, yuk!


1. Lelabuhan Sesaji ke Kawah Gunung Bromo

Lelabuhan merupakan acara inti dari upacara Kasada. Acara ini dimulai dengan berjalan dari Poten menuju kawah Gunung Bromo dengan membawa sesajen. Sesajen biasanya berisi hasil bumi maupun hewan ternak. Jangan bawa mantan ke sini, ya! Hahaha. Perjalanan ini diiringi bacaan doa sesuai niat masing-masing.


Sumber: Global-News.co.id


Warga Tengger berjalan kaki bersama menuju kawah Gunung Bromo untuk melakukan lelabuhan atau melemparkan sesajen di kawah aktif Gunung Bromo. Dalam hal ini mereka berpacu dengan matahari yang akan terbit. Perjalanan dari Pura Punten ke puncak Bromo membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Nggak kebayang gimana rasanya tuh, 30 menit berjalan dari pura ke puncak dengan cuaca yang dingin. Sesampainya di atas puncak, warga Tengger kemudian melemparkan ongkek (sesajen) dan hasil bumi lainnya ke kawah aktif. Di sana para pemburu rezeki yang berada di bibir kawah aktif Gunung Bromo atau disebut juga dengan marit sudah menunggu untuk mengais hasil bumi tersebut. Pasti seru jika kamu ikutan. Next time Travelovers ke sana bareng, ya!


2. Beradu Nasib di Kawah Gunung Bromo


Sumber: getlost.id


Lelabuhan menjadi puncak acara yang sangat dinanti-nanti oleh warga sebagai penonton upacara Yadnya Kasada. Bagaimana tidak? Mereka dapat bebas berebut, mengambil hasil lelabuhan yang telah dilemparkan ke bawah kawah saat upacara Yadnya Kasada. Bahkan para warga sampai membekali diri dengan segala peralatan yang dimilikinya untuk bisa menangkap sesajen yang dilemparkan ke kawah Gunung Bromo, lho! Tak tanggung-tanggung, jaring yang mereka rakit dari terpal dan tongkat menjadi alat tempur berebut ongkek di lereng kawah. Mereka udah nggak peduli lagi tuh, sama kawah Gunung Bromo yang statusnya aktif demi mendapatkan ongkek tersebut. Semangat warga dalam memperebutkan sesajen makin membara kalau sesajen yang dilemparkan dalam upacara Yadnya Kasada berupa hewan ternak seperti kambing atau ayam. Wah, nggak kebayang tuh, rebutan ayam di lereng kawah yang masih aktif! Tentunya keberuntungan akan berpihak pada mereka yang sigap dan cepat saat menyerbu sesajen tersebut sebelum jatuh ke dalam kawah. Waduh, intinya sih siapa yang cepat, dia yang dapat!


3. Sesajen Disajikan untuk Joko Seger dan Roro Anteng


Sumber: id.theasianparent.com


Cerita rakyat tentang Joko Seger dan Roro Anteng masih abadi melekat di masyarakat Suku Tengger. Joko Seger merupakan pangeran dari Kerajaan Majapahit Kuno sedangkan Roro Anteng merupakan putri dari Kerajaan Singosari. Mereka bertemu kemudian menikah dan membangun negeri di lereng Gunung Bromo yang disebut sebagai Tanah Tengger. Setelah 25 tahun menikah, mereka tak dikaruniai anak hingga suatu ketika mereka bersaksi di hadapan Gunung Bromo. Jika mereka dikaruniai anak, maka anak terakhir mereka akan menjadi persembahan bagi Kawah Bromo. Permintaan mereka dikabulkan oleh Dewa dan akhirnya mereka dikaruniai 25 anak. Anak terakhir mereka bernama Jaya Kusuma. Ialah yang akan dijadikan persembahan bagi Kawah Bromo sesuai dengan perjanjian sebelumnya.


Tepat tanggal 14 di bulan Kasada, Jaya Kusuma rela menceburkan diri ke kawah Bromo untuk memenuhi janji kedua orang tuanya. Sebelum menceburkan diri, Jaya Kusuma berpesan kepada seluruh penduduk Tengger untuk mempersembahkan hasil bumi mereka setiap malam purnama Bulan Kasada tanggal 14-15. Itulah yang menjadi alasan masyarakat Suku Tengger melakukan Tradisi Yadnya Kasada. Tujuannya untuk menghormati arwah leluhur dengan mempersembahkan hasil bumi mereka kepada kawah Gunung Bromo setiap tanggal 14 bulan Kasada. Persembahan tersebut mulai dari hasil perkebunan, pertanian, ternak hewan, dan masih banyak lagi. Selain itu, sesajen yang diberikan saat Bulan Kasada juga merupakan bentuk interaksi dan ucapan terima kasih masyarakat Suku Tengger kepada leluhur dan itu juga merupakan janji Suku Tengger kepada Bromo.


4. Masuk ke Dalam Top 30 Events Calendar of Event Wonderful Indonesia


Sumber: blog.tripceptera.com

Pada bulan April 2019, upacara Yadnya Kasada dianggap sebagai Top 30 Events Calendar of Event Wonderful Indonesia 2019 oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia dan Markplus Center for Tourism and Hospitality. Penghargaan ini diserahkan oleh Gusti Ngurah Putra, Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Republik Indonesia. Sebelumnya, Upacara Yadnya Kasada yang dilakukan di Gunung Bromo juga masuk kedalam Top 100 Events Calender of Event Wonderful Indonesia pada bulan Juli 2018.


5. Upacara Tetap Dilakukan Saat Erupsi


Sumber: nusantara.rmol.id

Nyatanya, ritual Yadnya Kasada akan terus dilestarikan oleh masyarakat setempat, walaupun keadaan banyak yang tidak memungkinkan. Pada tahun 2019, Gunung Bromo pernah dalam status level II waspada. Namun upacara tetap dilaksanakan karena adat yang terus harus dilestarikan. Warga percaya bahwa ritual di gunung ini tetap harus dilakukan meski status gunung sedang waspada, erupsi, turun hujan deras maupun angin.


Menarik sekali bukan Upacara Yadnya Kasada ini? Travelovers wajib banget memasukkan Upacara Yadnya Kasada ini sebagai objek destinasi wisata saat berkunjung ke Gunung Bromo. Saran Mimin, kamu harus datang di hari ke-14 Bulan Kasada untuk melihat upacara ini, ya!


So, see you on the next experience, Travelovers!


Sumber:

Reza Iqbal. (2019, Juli 19). Fakta Unik Yadnya Kasada, Ritual Sakral Khas Suku Tengger.

https://www.idntimes.com/travel/destination/reza-iqbal/fakta-unik-yadnya-kasada-ritual-sakral-khas-suku-tengger

Putri Puspita. (2017, Maret 30). Upacara Kasada, Tradisi Unik Suku Tengger.

https://bobo.grid.id/read/08673976/upacara-kasada-tradisi-unik-suku-tengger


/Iqbal Kurriana Putra - Peserta STIP Batch 2 - Universitas Jember/

/Filardi Amal Ahsani - Peserta STIP Batch 2 - Universitas Brawijaya/

/Myvictress Thiofanny - Peserta STIP Batch 2 - Universitas Sebelas Maret/

/Rani Puspitasari - Peserta STIP Batch 2 - Universitas Muhammadiyah Surakarta/

/Salsabila Rahma A. Z. - Peserta STIP Batch 2 - Universitas Diponegoro/


8 views0 comments