7 Fakta Menarik Candi Borobudur


Pagi di Candi Borobudur | Foto: Travelxism

Siapa yang tidak kenal dengan Candi Borobudur. Hampir semua kegiatan karya wisata se-Indonesia berkunjung ke sana. Landmark Jawa Tengah ini tentu tidak perlu diragukan lagi kemegahannya. Satu hal yang pasti, candi ini merupakan candi Buddha terbesar di dunia. Fakta umum tersebut pasti sudah sering terdengar ditelinga travelovers semua kan. Tapi, selain sebagai candi terbesar, masih ada tujuh fakta lagi terkait Candi Borobudur nih travelovers. Penasaran? Yuk simak faktanya di bawah ini:


Dibangun Selama Seratus Tahun


Sama dengan The Great Wall China, Candi Borobudur juga membutuhkan waktu lama untuk pembangunanya. Berdasarkan aksara yang tertulis di dinding candi, diperkirakan pembangunan candi ini dilakukan antara abad ke-8 dan ke-9. Sehingga jika ditaksir butuh waktu sekitar 75-100 tahun untuk bisa menyelesaikan. Seperti yang sudah diketahui dalam pelajaran sejarah ya travelovers, candi ini dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra.


Ditemukan oleh Seorang Gubernur Jendral


Berkembangnya kerajaan islam pada abad ke-14 di tanah Jawa membuat Candi Borobudur mulai ditinggalkan. Namun pada tahun 1814, seorang Gubernur Jendral asal Inggris, yakni Sir Thomas Raffles menemukan dan menyebutkan nama Borobudur untuk pertama kali dalam buku The History of Java.


Di dalam buku tersebut, Raffles tidak hanya menceritakan bagaimana dia menentang perbudakan di tanah jawa namun juga menggambarkan penemuannya berupa gunduka batu besar yang terkubur tanah dan semak belukar. Raffles kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan dan mempelajari Candi Borobudur secara lebih lanjut.


Memiliki Ribuan Relief


Hal yang bisa dinikmati selain kemegahan dan keindahan alam candi, adalah relief. Berdasarkan data yang ada, Candi Borobudur memiliki banyak sekali relief, tepatnya 2672 relief. Jumlah tersebut tersusun atas 1212 relief dekoratif dan 1460 relief kisah Buddha. Gamabaran relief ini, konon jika disusun memanjang, bisa mencapai 6 kilometer lho travelovers.


Dalam relief-relief kisah Budha, terbagi dalam empat cerita utama, yakni Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka dan Awadana, serta Gandawyuha. Relief tersebut bercerita tentang perjalanan dan nilai-nilai ajaran Buddha. Sementara relief dekoratif biasanya berkisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.


Kepala Patung Buddha Bernilai Tinggi


Candi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 123 x 123 meter ini memiliki 504 arca Buddha yang terletak dalam 432 relung di teras bujursangkar. Berdasarkan data yang ada, dari 504 arca, terdapat 248 arca dalam kondisi tanpa kepala. Sebanyak 57 kepala belum dipasang dan selebihnya tidak tahu di mana.


Berbagai spekulasi beredar, mulai dari pembangunan yang belum selesai hingga pencurian kepala patung Buddha yang ternyata bernilai mahal. Harga kepala budha dipasar barang antik konon bernilai tinggi, sehingga tidak heran banyak yang mencuri untuk dijual pada kolektor.


Artefaknya Tersebar di Dunia


Bukan hanya kepala saja yang hilang, beberapa artefak dari Candi Borobudur juga banyak yang tidak ada di tempat. Usut punya usut, artefak ini sudah tersebar di beberapa museum di dunia.


Konon artefak itu bisa terbang ke negara lain berkat kemurahan hati pemerintah Hindia Belanda. Pada 1896, Raja Chulalongkorn II dari Thailand berkunjung ke Candi Borobudur dan meminta buah tangan berupa artefak candi. Dengan senang hati pemerintah Hindia Belanda memberikan beberapa artefak yang diambil dari Museum Candi Borobudur.


Maka, ketika travelovers berkunjung ke negara lain, kalian akan bisa melihat beberapa artefak Indonesia, khususnya Candi Borobudur di Museum Nasional Bangkok, Museum Tropenmuseum Amsterdam, dan British Museum di London.


Teratai di Tengah Danau


Penemuan kontroversial pernah disampaikan oleh seniman dan arsitektur Hindhu Buddha W.O.J. Nieuwenkamp. Menurutnya, Borobudur adalah lambang dari bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau purba. Beliau menyebutkan bahwa daratan yang mengelilingi Borobudur dulunya adalah danau purba. Namun, hipotesa W.O.J. Nieuwenkamp ini masih menjadi perdebatan ya travelovers.


Tapi, jika merujuk pada arsitektur, bentuk borobudur sendiri memang menyerupai bunga teratai. Kemudian postur Buddha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana (aliran Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur). Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Maka, bisa jadi memang konsep arsitekturnya adalah bunga teratai ya travelovers.


Letaknya yang Istimewa

Konon banyak juga yang mengatakan bahwa posisi bangunan Candi Borobudur begitu istimewa. Candi ini dikelilingi dataran hijau nan subur dengan pemandangan yang mengagumkan. Selain itu, Candi Borobudur juga dilengkapi dengan benteng perlindungan alami dari beberapa gunung yang mengapitnya. Candi Borobudur diapit oleh dua pasang gunung, yakni Gunung Merapi dan Merbabu lalu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Selain itu, Pegunungan Menoreh yang kerap dianggap sebagai lambang dari Gunadharma yang tertidur juga turut memberlikan perlindungan benteng bagi Candi Borobudur.


Selain tujuh fakta tersebut, masih banyak fakta menarik lainnya yang bisa kalian temukan tentang Candi Borobudur. Terlebih saat kalian berkunjung sendiri ke sana. Akan banyak cerita menarik yang bisa kalian temukan di Candi Borobudur. Oh ya, sebentar lagi hari Raya Waisak, aka nada penerbangan lampion yang sangat recommended untuk dikunjungi. Yuk cek tanggalnya. Selamat Liburan! /Ajeng/


#BorobudurTemple #Temple #Borobudur #IndonesianTemple #Indonesia #CenterJava #Candi #CandiBorobudur #BudhistTemple #BiggestTemple #BorobudurFact #SevenFactAboutBorobudur #Tujuh #Fakta #CandiBorobudur #TujuhFaktaMenarikCandiBorobudur #VisitBorobudur #VisitIndonesia #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #BorobudurPark #Waisak #Vesak #Lampion #VesakInBorobudur #AmazingBorobudur #Travelovers #Travelxism #Infotravelxism #TravelxismDotCom #InfoCandi #TempleInformation #VisitTemple #TRavel #TravelinIndonesia #TempleDestination #Destination #Tourism #IndonesinTourism #TempleTourism

0 views