• Travelxism

Awal Mula Pinus Sari, Primadona Wisata Hutan Pinus Mangunan


Photo by: Aditya Prasetya Aji – Peserta STIP Travelxism – Universitas Sebelas Maret

“Kalau pacarmu bilang surga dunianya adalah kamu, aku juga bisa bilang surga dunia yang sesungguhnya adalah kekayaan alam kita.”


Mengulas mengenai kekayaan alam Indonesia tidak akan ada habisnya. Di setiap daerah, Tuhan telah menitipkan masing-masing porsi keindahan. Seperti halnya Kota Jogja yang disebut istimewa ini, ia menyimpan banyak sekali keistimewaan itu dalam berbagai aspek. Salah satunya yaitu dalam hal keindahan alamnya. Pernahkah Travelovers merasa kecewa dengan suguhan alam indah Kota Jogja? Pastinya tidak dong.


Bagian selatan Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Bantul. Meskipun bukan pusat kota, Bantul tak kalah menariknya dengan berbagai kekayaan alam yang dimilikinya. Yang paling khas dari daerah ini yaitu kekayaan alam hutan pinus. Karunia Tuhan berupa hutan pinus di sini banyak membawa keuntungan. Dibukanya berbagai destinasi wisata yang menyuguhkan alam bebas hutan pinus turut membantu pemberdayaan masyarakat setempat. Yang tak asing di telinga kebanyakan orang yaitu wisata Hutan Pinus Sari atau sering disebut Hutan Pinus Mangunan.


Beberapa orang kerap kali menyebut Pinus Sari dengan sebutan Hutan Pinus Mangunan karena tempat ini berada di Desa Mangunan. Namun alasan lain disebut demikian adalah karena Pinus Sari ini merupakan destinasi wisata hutan pinus yang pertama kali dibangun di kawasan Mangunan. Seperti yang kita tahu bahwa tidak hanya satu tempat wisata saja yang menyuguhkan alam hutan pinus sebagai daya tariknya, hampir keseluruhan wisata yang ada di Mangunan, Bantul ini berkonsep wisata alam hutan pinus. Tentunya dengan ciri khasnya masing-masing yang dibuatnya agar berbeda.


Jika Travelovers akan berkunjung ke Pinus Sari, waktu tempuhnya kurang lebih 45 hingga 50 menit dari pusat Kota Jogja. Dengan kondisi lalu lintas yang cukup stabil, ditambah pula dengan sisi kanan kiri yang penuh dengan pemandangan alam, dijamin perjalanan kamu akan berkesan. Tiket masuknya pun cukup terjangkau, hanya dengan 5000 ribu rupiah saja Travelovers bisa dengan bebas menikmati alam Pinus Sari Mangunan.


Awal berdirinya Pinus Sari ini tak lepas dari campur tangan masyarakat setempat. Bahkan hingga saat ini pun, masyarakat setempat masih tetap diberdayakan dalam sektor wisata Pinus Sari tersebut. Menurut penuturan Bapak Heri selaku pengelola Pinus Sari, mulanya berawal pada tahun 2011 saat petani hutan menyadap getah pohon pinus. Para petani hutan ini melihat adanya potensi yang dimiliki hutan pinus tersebut. Saat itu ada beberapa orang yang berkunjung ke hutan pinus. Hingga lama kelamaan yang berkunjung pun semakin hari semakin ramai.


Melihat ramainya orang yang berkunjung ke hutan pinus tersebut, para petani hutan kemudian berinisiatif untuk membuat tempat penitipan sepeda motor di sekitar kawasan hutan pinus karena dari segi keamanan memang masih sangat kurang saat itu. Kunjungan semakin ramai mulai dari 2011 hingga 2014. Lalu pada tahun 2014, ada kunjungan dari Ngarsa Dalem, sebutan bagi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono X. Dikarenakan melihat potensi yang ada di Mangunan maka dengan kedatangan Ngarsa Dalem meminta pemaparan kebenaran tersebut. Bapak Ipung selaku yang menjabat sebagai ketua Koperasi Noto Wono yang membawahi Pinus Sari saat itu yang memberikan pemaparan kepada Ngarsa Dalem.


Setelah disetujui oleh Gubernur DIY, maka dilakukanlah kerjasama dengan RPH (Resort Pemangku Hutan) Mangunan. Pinus Sari adalah destinasi wisata pertama yang dibangun dari sekian banyak wisata hutan pinus Mangunan saat ini. Pinus Sari Mangunan menonjolkan keindahan alam hutan pinus sebagai daya tarik wisata. Oleh karena itu, pihak pengelola pun tak banyak membuat spot-spot di dalamnya. Hanya beberapa spot foto dan selebihnya yaitu fasilitas pendukung seperti jalan papan kayu, kursi duduk, gazebo, taman, dan lain-lain. Saat mulai dibangun menjadi destinasi wisata pada tahun 2016, kegiatan menyadap getah pinus oleh petani hutan pun dihentikan.


Mengenai penamaan tempat ini, nama Pinus Sari memiliki makna yang sederhana. Pinus yaitu diambil dari nama tanaman pohon yang ada di kawasan ini yaitu pohon pinus. Sedangkan kata ‘Sari' diartikan sebagai hasil dari apa yang petani hutan lakukan saat menyadap getah pinus, mereka akan mendapatkan sari dari pinus tersebut yaitu getahnya. Namun kebanyakan orang lebih sering menyebutnya Pinus Mangunan daripada Pinus Sari.


Saya menyebutnya primadona karena tempat ini memang yang pertama kali dibangun di kawasan Mangunan. Sehingga seseorang terlebih dahulu mengenal wisata pinus ini dibanding yang lainnya. Terbukti juga dengan banyaknya kunjungan wisatawan setiap harinya ke Pinus Sari. Tidak hanya dari wisatawan lokal Jogja, tetapi banyak juga wisatawan yang berasal dari luar daerah. Bahkan ada pula wisatawan dari mancanegara yang berkunjung ke sini lho Travelovers! Meskipun tempatnya yang sedikit jauh dari Kota Jogja namun pengunjung yang datang tak pernah surut. Primadona wisata hutan pinus yang satu ini memang selalu bisa membius para pengunjungnya untuk datang kembali.


View alami hutan yang disuguhkan di sini juga memiliki maksud dan tujuan tertentu. Pengelola ingin tetap menjaga kelestarian alam hutan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada masyarakat Mangunan sebagai penyokong kehidupan mereka. Oleh karena itu ini merupakan suatu amanah yang harus terus dijaga. Pihak pengelola Pinus Sari pun tetap konsisten menanami tanaman pohon setiap tahunnya. Ada berbagai macam jenis tanaman berbeda yang ditanaman setiap tahun. Contohnya tanaman pohon nyamplung, pohon pinus, pohon cemara, dan kopi. Mereka mulai menanam pada musim penghujan di lahan-lahan yang masih kosong di kawasan tersebut. Selain untuk tetap menjaga kelestarian hutan, pengelola juga ingin mengenalkan kepada pengunjung tentang tanaman-tanaman yang ada di sana. Menunjukkan pula bahwa kita ini amat sangat kaya akan kekayaan alam yang bermacam-macam.


Travelovers wajib banget sih mengunjungi Pinus Sari. Harga terjangkau, suasana yang sejuk, cocok buat kamu yang ingin rehat sejenak dari kesibukan duniawi.


So, see you on the next experience, Travelovers!


/Anjani Hayatunnufus – Peserta STIP Travelxism – Universitas Sebelas Maret/

93 views0 comments