• Travelxism

Begini Respon Masyarakat Mengenai Project DifaTravelX

Project DifaTravelX yang didanai oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme (AGS) ini rupanya menjawab salah satu permasalahan yang ada di Indonesia. Sebab, berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia yang termasuk dalam usia produktif mencapai angka 17 juta jiwa. Angka tersebut tentunya tidak dapat dianggap remeh. Oleh karena itu, dalam Presidensi G20, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) membawa empat isu prioritas yang salah satunya adalah mendorong adanya partisipasi para penyandang disabilitas dalam dunia kerja.

Sumber: Freepik.com


“Kita harus memberikan dukungan kepada para penyandang disabilitas dalam merumuskan rencana hidupnya secara mandiri”, ujar Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah saat G20 Campaign: Engaging Person With Disabilities for Inclusivity.

Berdasarkan ungkapan dari Menteri Ketenagakerjaan tersebut, dapat dilihat bahwa project DifaTravelX merupakan salah satu upaya yang dapat membantu pemberdayaan ekonomi di Indonesia, khususnya bagi para penyandang disabilitas. Lalu, bagaimana tanggapan dari masyarakat mengenai DifaTravelX ini? Yuk, simak hasil wawancara kami dengan beberapa narasumber terpilih.

“Kalau dari sisi sosiologis, konsep pemberdayaan itu kan ada pada objeknya. Jadi, project ini bagus karena tujuan pemberdayaannya itu nyata dan nggak cuma berorientasi pada keuntungan semata”, tutur Rahma Dewi Agustin sebagai seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta. Ia juga menerangkan terkait permasalahan yang sebetulnya dihadapi oleh teman-teman penyandang disabilitas.

“Selain bagaimana cara meningkatkan kapabilitas dan perekonomian mereka secara lebih baik, juga ada permasalahan mengenai eksistensi mereka. Gimana sih supaya kemampuan yang mereka miliki itu diakui setara oleh lingkungan sekitar tanpa memperlihatkan kekurangan yang mereka miliki”, lanjut Rahma Dewi Agustin. Permasalahan tersebut tentunya dapat diatasi dengan adanya DifaTravelX karena di dalamnya ada pelatihan-pelatihan dan diberikan ruang yang dapat mendukung kapabilitas dan eksistensi dari teman-teman penyandang disabilitas.

“Kalau memang project ini tertuju pada pemberdayaan teman-teman disabilitas, semoga akan ada banyak kegiatan-kegiatan seperti ini dan DifaTravelX dapat memfasilitasi pelatihan-pelatihan yang semakin bagus”, ujar Rahma sebelum mengakhiri wawancara.

Tak hanya Rahma yang berpendapat bahwa project ini menarik, namun juga ada Fikri yang memiliki pandangan serupa. “Menurutku project ini bagus banget karena memberdayakan teman-teman disabilitas”, ujar Fikri Lutfi Fahmi sebagi salah satu followers Instagram Travelxism pada saat wawancara melalui Zoom Meeting. Tak hanya itu, Fikri juga mengungkapkan pandangannya terhadap para penyandang disabilitas.

“Sebenernya project ini cukup brilian karena kita tahu kalau di lingkungan sekitar pun teman-teman disabilitas itu cenderung di-underestimated. Jadi, project ini bisa menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus membuktikan bahwa teman-teman disabilitas itu mampu berdaya.” Dengan kata lain, project ini dapat membuat para penyandang disabilitas merasa senang karena dihargai oleh lingkungan sekitar. Jika anak muda ramai membicarakan mengenai insecure, mungkin sebetulnya teman-teman disabilitas ini juga merasakan hal yang sama. Oleh karena itu, adanya project ini dapat memberikan ruang kepada teman-teman penyandang disabilitas agar dapat percaya diri tampil di depan orang lain dengan kemampuan yang mereka miliki, menambah pengetahuan, dan dapat terus bertumbuh.

Selain itu, kami juga melakukan wawancara dengan salah satu pengelola UMKM Kripik Belut Godean yang menjadi salah satu destinasi untuk Virtual Tour yang diadakan oleh DifaTravelX. “Project ini bagus sekali karena cocok dengan kami sebagai pengelola UMKM kripik belut. Mungkin nantinya bisa dibuat semacam paket wisata, seperti wisata oleh-oleh atau melihat proses produksi kripik belut”, ujar Warti sebagai pengelola UMKM Kripik Belut di Yogyakarta. Ia merasa bahwa project ini selain dapat memberdayakan teman-teman penyandang disabilitas, juga dapat menjadi salah satu sarana promosi agar ekonomi kreatif dapat berkembang.


Nah, itu tadi hasil wawancara yang sudah kami lakukan. Kira-kira Travelovers punya pandangan yang berbeda nggak? Jangan lupa untuk share ke teman-teman sekitar agar mereka juga mampu mendukung dan berhenti meng-underestimated para penyandang disabilitas.



/Alfiatu Rohima - Peserta STIP Travelxism Batch 2 - Universitas Ahmad Dahlan/

40 views0 comments