• Travelxism

Dari Seorang Atlet hingga Host Virtual Tour, Kisah Inspiratif Susanto Beradaptasi di Era Digital


Kegagalan bukanlah suatu halangan untuk mencapai impian. Seperti kata Susanto, “Tetap semangat, jangan menyerah. Kita memang bukan yang terbaik, tapi kita akan berusaha menjadi lebih baik.

Percaya diri dan optimis. Sifat itulah yang bisa menggambarkan Susanto, salah seorang host dalam Virtual Tour DifaTravelX. Ia tak mengenal rasa takut untuk mencoba hal-hal baru meski dengan keterbatasan yang dimilikinya. Hal baru justru menjadi tantangan yang harus ditaklukan. Penasaran dengan kisah Susanto? Simak artikel ini hingga tuntas!

Susanto atau akrab disapa Santo adalah seorang driver DifaBike yang berasal dari Turi Sleman Yogyakarta. Dalam program DifaTravelX yang didanai oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme yang diadministrasikan oleh Australia Awards in Indonesia ini, ia menjadi salah seorang host yang nantinya akan memandu Virtual Tour di Embung Kaliaji. Pak Santo sehari-hari juga berjualan makanan ringan berupa kue pukis demi menghidupi keluarganya. Brand kue pukis yang dimiliki Santo ini dinamakan Kue Pukis Pak Har.

Pak Santo sangat multitasking. Bagaimana tidak, disamping menjadi driver DifaBike, host Virtual Tour, dan berjualan kue pukis, beliau juga seorang atlet angkat berat NPC (National Paralympic Committee) sejak 2019. Prestasi beliau menjadi seorang atlet juga tidak main-main. Buktinya, pada September 2019, Santo berhasil mendapatkan medali perunggu pada pertandingan pertamanya di ajang kompetisi Pekan Paralimpic Daerah (Peparda) 2 yang diselenggarakan di Kota Yogyakarta.

Menjadi host Virtual Tour merupakan kesempatan emas bagi Santo. Ia melihat bahwa hal ini menjadi momentum baginya untuk bisa beradaptasi di tengah era digital. Santo sangat optimis untuk menjadi host Virtual Tour DifaTravelX karena menurutnya hal ini membuat ia belajar lebih banyak ilmu dan pengalaman baru. “Kesempatan menjadi host Virtual Tour DifaTravelX bagi saya merupakan tantangan untuk bisa masuk di era digital. Jadi, saya bisa mengukur diri apakah mampu atau tidak menjadi seorang host ke depannya. Awalnya memang sulit, tapi saya percaya semuanya butuh proses apalagi untuk mempelajari hal baru”, tutur Santo kepada tim Travelxism.

Jangan takut mengambil kesempatan baru menjadi kunci semangat bagi Santo. Ia menyadari bahwa usianya yang sekarang kurang mengikuti perkembangan teknologi digital. Namun, hal tersebut tidak membuat Santo takut untuk berkecimpung di project Virtual Tour DifaTravelX. Santo menuturkan bahwa, “kita bisa dikatakan bukan generasi milenial. Tapi, tidak ada salahnya kita mengikuti itu (Virtual Tour DifaTravelX). Karena kalau kita tidak mau dan tidak berani mencoba, maka kita tidak pernah tau apakah sebenarnya kita mampu atau tidak. Hal itu akan jadi penyesalan seumur hidup.”

Potret Santo bersama Tim Travelxism

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Meskipun selalu optimis dan percaya diri, tak selamanya hidup Santo berjalan mulus. Ia kerap mendapat stigma karena dianggap ‘unik’. Menurutnya, hal tersebut wajar ketika ia dipandang sebelah mata. Namun, yang terpenting baginya yaitu jangan pernah menyerah. Itulah kata kunci yang selalu ia pegang. Menurut Santo, tetap semangat dan buktikan kepada masyarakat sekitar bahwa kita (penyandang disabilitas) mampu dan berdaya sesuai dengan apa yang kita miliki dan sesuai porsi kita. “Tunjukkan! Jangan pernah malu, jangan pernah ragu”, pungkas Santo.

Santo berpesan bagi para penyandang disabilitas di luar sana serta masyarakat umum. Ia menuturkan, “Tetap semangat, jangan menyerah. Dengan segala keterbatasan, kami akan mencoba yang terbaik untuk kami juga. Kita bukan yang terbaik memang, tapi kita akan berusaha menjadi lebih baik. Jadi, mohon jangan pandang kami sebelah mata. Kami tidak membutuhkan belas kasihan, tapi sebuah kesempatan yang kami butuhkan.”



/Safiratul Khodijah - Peserta STIP Travelxism Batch 2 - Universitas Negeri Yogyakarta/


28 views0 comments