• Travelxism

Dari Tarian Hingga Atraksi Jemparingan : Sepenggal Cerita di Desa Wisata Pengklik


Photo by: Mifta Sholikatin - Peserta STIP Travelxism - Universitas Jember

Saat mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, . aku hanya membayangkan berpose di sepanjang jalan Malioboro, memotret bangunan Keraton, dan melihat Tugu Yogyakarta yang sangat ikonik. Atau... mencicipi berbagai kuliner yang konon katanya masakan Yogyakarta semuanya manis-manis. Vibes ketika menginjakkan kaki di tanah Jogja langsung sangat terasa. Pantas saja banyak orang-orang meninggalkan kenangan di tempat ini.


Bukan hanya sekadar kenangan, Jogja juga menjadi tempat persinggahan terbaik selain rumah untuk berteduh. Maka dari itu banyak orang-orang setelah berkunjung ke Jogja ingin kembali lagi walaupun sudah berkali-kali memijakkan kaki.


Permadani Sawah di Wisata Pengklik


Travelovers, aku ingin memberitahu sesuatu. Bahwa jangan hanya menggantungkan pengalaman kamu di papan Jalan Malioboro. Sesungguhnya Jogja adalah tempat dengan berbagai misteri, kebudayaan, sosial, kuliner, dan tempat-tempat wisata yang bisa travelovers eksplorasi lebih jauh. Gunakan kesempatan kamu sebelum kembali ke stasiun maupun bandara. Sangat disayangkan apabila kembali hanya sekadar membawa buah tangan semata dan sisa-sisa pakaian kotor di dalam koper. Yuk, ikutin ceritaku saat mengunjungi Desa Wisata Pengklik di Desa Madurejo!


Saat pertama kali mengunjungi Desa Wisata Pengklik, view hamparan sawah memenuhi pelupuk mataku. Padi-padi saat itu telah kemuning nan merunduk. Beberapa petani membuka tikar yang sangat luas untuk menjemur gabah lalu kembali pulang menggunakan sepeda onthel. Ciri khas orang Jogja, ketika melihat mengarah ke mereka, aku mendapatkan senyuman manis disertai sedikit menundukkan kepala. Budaya sopan santun masih sangat terpelihara dalam kehidupan bersosial di sini.


Kebetulan cuaca hari ini sangat cerah. Langit membuka luas tubuh birunya dari gugusan awan yang melintas. Dari kejauhan Gunung Merapi terlihat jelas dibalik tugu bambu yang menjadi ikonik yang unik di Desa Wisata Pengklik. Suasananya begitu asri karena masyarakat lokal sangat menghargai hidup berdampingan dengan alam.


"Di sini kami sangat menghargai dan menjaga alam. Beberapa pohon telah kami tanam di sekitar Gua Jepang, biar tempat ini semakin asri" ungkap Mas Arif selaku Ketua POKDARWIS khusus destinasi Wisata Pengklik.


Selain tempatnya bersih, Desa Wisata Pengklik juga melakukan komunikasi dengan berbagai komunitas untuk memajukan destinasi wisata mereka. Komunitas yang aktif berkegiatan di Wisata Pengklik salah satunya adalah seni tari, musik dan masih banyak lagi aneka ragam komunitas yang turut membantu eksistensi Desa Wisata Pengklik.


Kesenian & Atraksi di Wisata Pengklik


Sore itu salah satu Abdi Dalem melakukan jemparingan. Jemparingan sendiri adalah memanah dalam bahasa Indonesia. Busur atau Gandewo secara desainnya pun tidak boleh asal-asalan, harus sama tinggi dengan si pemanah. Ketika Abdi dalem menarik busurnya dengan sangat fokus untuk mengenai titik tembakan, shoot.... Gacuk alias anak panah mengenai sasaran dengan sempurna. Travelovers, pasti sangat terpikat ketika melihat momen tersebut.


Ketika aku menikmati atraksi jemparingan, salah satu pelayan warung Wisata Pengklik menawari aku sebuah minuman yang berwarna kuning. Awalnya aku mengira minuman tersebut adalah temulawak namun Mas Arif menjelaskan bahwa minuman tersebut berbahan dasar kunyit.


"Monggo diminum,ini namanya Kunir Asem " ucap Mas Arif mempersilahkan.


Rasanya asem tetapi ada manis-manisnya. Ekspektasi ketika mencoba minuman ini adalah pahit, realita berkata lain lidahku menerima dan cukup enjoy menikmatinya. Aku merasa energi semakin bertambah serta badan menjadi terasa lebih santai. Pokoknya, travelovers wajib mencoba kunir asem Wisata Pengklik bila berkunjung disini dijamin membuat tubuh kamu lebih rileks.


Setelah menyaksikan atraksi jemparingan dengan segelas kunir asem . Sekelompok gadis cilik melakukan latihan menari. Tentu saja aku mendekat dan tidak mau ketinggalan salah satu momen penting di destinasi wisata ini. Langkah kecilnya begitu lihai mengikuti iringan musik membuatnya terlihat imut. Tarian yang dilakukan anak-anak tersebut bernama tarian nawung sekar. Nawung sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti menata, sedangkan Sekar memiliki arti sebagai bunga. Secara makna tarian ini menggambarkan gadis cilik Jogja berperilaku anggun, cantik, dan lihai layaknya sebuah bunga yang tertiup semilir angin. Gaya tarian nawung sekar tidak jauh berbeda dari tarian ciri khas Jogja pada umumnya yang terdiri dari nyelinkenthing, ngeruji, mendhak, keser, dan nyanthing.


Gerakan dari setiap tarian nawung sekar sangat cocok dibawakan anak perempuan yang masih kecil selain gerakannya yang terbilang cukup mudah untuk dihafalkan. Tarian nawung sekar dapat melatih kepekaan motorik anak sehingga bagus untuk tumbuh kembangnya. Selain itu, pada gerakan yang membusungkan dada penari dilatih agar representasi makna tari tidak terkesan sombong karena pondasi wanita Jogja adalah ayu dan menjaga martabat sopan santunnya.


Selain bertujuan untuk mengembangkan pariwisata, Desa Wisata Pengklik begitu luar biasa melestarikan kebudayaan yang ada di Jogja melalui aktivitas-aktivitas kesenian tradisional. Berbagai macam unsur kebudayaan sangat terjaga di sekitarnya. Mulai dari sopan santun, semangat masyarakat lokal yang mendukung perkembangan Wisata Pengklik, serta menjalin ikatan dengan berbagai komunitas untuk menjaga kelestarian budaya leluhur.


Budaya akan terkikis seiring berputarnya waktu. Tetapi cinta, kasih, dan menjaga membuatnya bertahan diantara hantaman masa yang tiada henti-hentinya...

Kalau boleh tahu travelovers memiliki budaya ciri khas apa nih? Jangan sampai pergeseran waktu memudarkan identitas kamu secara perlahan-lahan. Mau melihat lebih lanjut semangat Desa Wisata Pengklik untuk mengembangkan pariwisata mereka melalui pelestarian budaya-budaya leluhur? Monggo follow akun Instagram @wisatapengklik.


Selamat Berwisata!


/Muh. Fernanda - Peserta STIP Travelxism - Universitas Hasanuddin/

36 views0 comments