• Travelxism

DifaBike, Harapan Baru bagi Aris untuk Keluar dari Jeratan Depresi

“Saya mampu melebihi mereka!” Itulah sebuah kalimat yang terlontar dari mulut Aris ketika menceritakan perjuangannya untuk keluar dari depresi.

Depresi. Sebuah istilah yang tak lagi asing terdengar di telinga kita. Bahkan, depresi ini sudah menjadi hal yang cukup banyak mendapat perhatian. Orang bisa dikatakan depresi ketika sudah dua minggu ia merasakan sedih, putus harapan, dan menganggap dirinya tidak berharga. Dalam hal itu, telah terjadi gangguan atau perubahan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih mendalam dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang disukai. Apakah Travelovers pernah merasa demikian? Semoga tidak, ya.

Salah satu host DifaTravelX, Aris Wahyudi yang tinggal di Timbulharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pernah mengalami depresi yang cukup serius. “Setelah saya menjadi difabel sekitar umur 19 tahun, saya depresi.” Aris mengatakan bahwa waktu itu ia tidak bisa beraktivitas seperti biasanya dan tidak pernah main atau berkumpul dengan teman-temannya lagi. “Hal itu membuat saya down dan kepercayaan diri pun hilang, hingga saya menutup diri dari lingkungan sekitar”, begitu ungkapnya.

Pada tahun 2012, Aris masuk ke rehabilitasi penyandang disabilitas di Pundong, Bantul sebelum akhirnya pada 2016 awal ia bertemu dengan Triyono, CEO & Founder Difabike. “Setelah masuk di Pundong, aku lihat banyak orang yang kondisinya jauh lebih kurang beruntung dari aku. Ada yang pakai kursi roda, jalan nggak bisa.” Berkecimpung di Pundong akhirnya membuat kepercayaan diri Aris yang sebelumnya telah hilang kembali tumbuh. Kepercayaan diri itu pun semakin besar seiring berjalannya waktu ditambah dengan bertemunya ia dengan Triyono.

Potret Aris bersama Beberapa Peserta STIP Batch 2

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Pertemuannya dengan Triyono merupakan awal mula ia bisa lebih berinteraksi dengan dunia luar dan mulai keluar dari jeratan depresinya. “Sebelumnya saya benar-benar berada di rumah terus selepas saya menjadi disabilitas. Setelah bertemu Pak Triyono baru bisa berubah menjadi orang yang lebih percaya diri dan memiliki public speaking yang bagus. Karena memang dulu saya sering dapat bully-an dan diremehkan orang lain.” Cibiran-cibiran itulah yang menjadi cambukan bagi diri Aris dalam menumbuhkan semangat untuk terus maju dan mendorong dirinya untuk berani melangkah ke depan.

Lambat laun, Aris bisa membuktikan diri bahwa ia mampu membalikkan cemoohan orang lain tentang dirinya. Ia mulai berani tampil di depan umum melalui berbagai wawancara TV swasta maupun nasional, hingga sering mengikuti rapat dengan kolega DifaBike bersama Triyono. Motivasi yang Aris pegang sampai detik ini untuk membuktikan bahwa omongan orang yang meremehkannya itu salah adalah ia percaya bahwa dirinya mampu melebihi orang-orang yang mencemoohnya.

“Jangan pernah menyerah, semangat menjalani hidup, buktikan bahwa kita mampu dan bisa melebihi ekspektasi orang lain! Tunjukkan pada mereka bahwa kita ini bisa sukses juga, jangan malah mewujudkan omongan mereka yang bilang kalau kita ini enggak bisa apa-apa”, begitu tutur Aris dengan penuh semangat.

Sedari kecil, Aris memiliki impian untuk menjadi orang yang berguna bagi dirinya maupun orang lain, sesuai dengan apa yang telah kakeknya ajarkan. Menurut Aris, bertemu Triyono merupakan sebuah perjalanan hidup yang bisa membawanya menjadi orang yang berguna itu. Salah satunya adalah dengan adanya project kolaborasi antara DifaBike dengan Travelxism yakni, DifaTravelX yang disponsori oleh Alumni Grant Scheme (AGS).

Aris bergabung dalam project itu dengan menjadi salah seorang host Virtual Tour DifaTravelX. Disini Aris mempelajari banyak hal baru, termasuk cara bicara yang lebih baik lagi untuk menceritakan sebuah destinasi yang akan ditampilkan di hadapan orang-orang melalui Virtual Tour. “Saya berharap saya bisa menularkan pengalaman-pengalaman saya kepada orang lain, terutama untuk memotivasi orang-orang yang merasa ingin menyerah dan tidak semangat menjalani hidup. Saya ingin memotivasi teman-teman disabilitas bahwa sebenarnya mereka itu mampu”, begitu tuturnya.



/Nisa Meilia Qur’ani - Peserta STIP Travelxism Batch 2 - Universitas Sebelas Maret/


3 views0 comments

Recent Posts

See All