• Travelxism

FGD Jalur Sepeda Wisata Yogowes Monalisa, Kurangnya Lahan Menjadi Permasalahan Baru


Jogja selalu memiliki potensi wisata yang beragam dan menarik dengan memanfaatkan alam dan budayanya. Selalu ada destinasi menarik yang disuguhkan mulai dari bentuk hidden gem hingga sport tourism. Bagi Travelovers yang tertarik dengan wisata berbasis sport tourism, ada kabar baik, nih. Jogja akan menghadirkan jalur sepeda baru yang disebut sebagai Wisata Yogowes Monalisa. Jalur sepeda ini direncanakan akan melalui kampung-kampung wisata, cagar budaya, daerah pinggir sungai, dan ruang terbuka hijau. Namun Wisata Yogowes Monalisa ini masih dalam tahap pengembangan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.



Perwakilan Travelxism dalam FGD Wisata Yogowes Monalisa dari 4 orang Divisi JRC dan 2 mentor JRC


Dalam rangka pengembangan Wisata Yogowes Monalisa lebih lanjut, Travelxism turut berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinas Pariwisata dan beberapa Kepala Desa serta Kelurahan daerah Yogyakarta tepatnya pada Senin (6/6/2022) di Hotel Pandanaran Yogyakarta. Pihak Travelxism sendiri yang mewakilkan ada dari teman-teman STIP Batch 2 dari divisi Junior Researchers and Consultant (JRC). Pembahasan dalam FGD mencakup penyampaian informasi jalur wisata sepeda Yogowes Monalisa. Selain itu, juga persiapan penyambutan era bangkit wisata dengan meningkatkan inovasi untuk menciptakan daya tarik bagi wisatawan dalam Wisata Yogowes Monalisa.


Pada FGD tersebut direncanakan terdapat pit stop luas yang tentunya nyaman bagi wisatawan dengan fasilitas yang memadai. Pit stop ini ke depannya akan terdapat lampu penerangan menggunakan solar panel, tempat parkir sepeda, dan perencanaan lainnya. Pengelolaan pit stop nantinya juga bekerja sama dengan desa wisata dan kelurahan yang menjadi tempat pembangunan pit stop. Pengadaan pit stop yang memadai ini juga diharapkan dapat berdampak baik bagi ekonomi warga desa.



Sesi Tanya Jawab FGD Wisata Yogowes Monalisa


Akan tetapi, ditemukan permasalahan baru dalam diskusi ini, yaitu kurangnya lahan untuk dimanfaatkan sebagai pit stop. Lahan yang akan digunakan untuk pit stop sendiri bersifat milik pribadi warga sehingga tidak dapat sembarangan digunakan untuk lahan pariwisata. Lahan pembangunan pit stop memang berada di sekitar pemukiman warga desa tepatnya desa-desa wisata karena sekaligus untuk mempromosikan paket wisata yang ada di desa wisata tersebut. Wisatawan yang menikmati jalur Monalisa ini dimaksudkan tidak hanya dapat menikmati istirahat karena lelah bersepeda, tetapi juga dapat menikmati suasana pit stop dan keunikan yang dihadirkan desa wisata yang menjadi tempat pit stop berada. Kemanfaatan pit stop demikian juga didukung kepala desa yang hadir dalam FGD.


Permasalahan yang sama pernah terjadi dan dihadapi oleh Dispar Natuna, Kepulauan Riau. Dikutip dari Tribunbatam.id, Hardinansyah selaku Kepala Dinas Pariwisata mengungkapkan bahwa kendala dalam mengoptimalkan pariwisata salah satunya ialah lahan untuk destinasi pada daerah terdepan Provinsi Kepulauan Riau yang belum terbebaskan. Masyarakat setempat berkehendak menjual lahan dengan harga mahal sementara pemerintah masih belum sanggup dengan harga sedemikian rupa. Akhirnya, bupati Natuna melakukan pembebasan lahan secara bertahap pada lokasi wisata tertentu.


Terkait pembebasan lahan memang sudah semestinya dikomunikasikan dengan warga setempat karena hal tersebut juga berkaitan dengan hak masyarakat dan juga kepentingan bersama. Berjalannya program wisata yang dimaksudkan untuk pemberdayaan ekonomi warga perlu dukungan dari warga sendiri dan kejelasan regulasi serta maksud terbuka dari pemerintah agar berjalan dengan kondusif.


Potret Peserta FGD Wisata Yogowes Monalisa


Pada FGD Wisata Yogowes Monalisa sendiri, Dinas Pariwisata Yogyakarta masih mencoba menemukan solusi untuk permasalahan lahan bagi pit stop.


“Masih belum ada solusi dan keputusan apa-apa terkait lahan untuk pit stop. Belum ada omongan akan seperti apa, entah akan beli lahan dan lain-lainnya. Ini masih menjadi kendala bagi dispar Yogyakarta,” ungkap Fadilah Darmawanty Listanto, peserta STIP Batch 2 divisi JRC. Selalu ada kendala ketika sebuah program pariwisata dicanangkan seperti permasalahan lahan satu ini. Ini masih menjadi tanda tanya besar bagi Dispar Yogyakarta.


Dalam pengembangan pit stop di sekitar desa wisata dimaksudkan untuk menjadi nilai jual dan daya tarik bagi wisatawan. Dari hal tersebut desa wisata akhirnya juga dapat lebih dikenal sehingga dapat menaikkan ekonomi warga dan membuka kesempatan kerja baru.


Melihat permasalahan ini sebenarnya tidak hanya menjadi permasalahan bagi Dispar selaku pelaksana utama. Akan tetapi, peranan masyarakat di berbagai lingkup yang berhubungan dengan pariwisata dan olahraga juga sangat dibutuhkan. Entah dalam sebuah argumen yang disuarakan melalui media ataupun dengan keterlibatan langsung warga terhadap program Wisata Yogowes Monalisa.


Bagaimana seharusnya Dispar menemukan solusi? Apakah memang dibutuhkan pembebasan lahan untuk keberlanjutan program wisata ini? Ataukah cukup dengan mencari penempatan lain yang memang di lahan milik pemerintah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin juga memancing argumen dan pendapat dari Travelovers yang bisa jadi menarik untuk disampaikan. Selama memiliki argumen yang bisa membantu permasalahan yang ada bukan jadi hal salah jika ingin menyampaikannya, lho Travelovers.


Sumber:

Ilham, Muhammad. (8 Juni 2022). Kadispar Natuna Blak-blakkan Kendala Kembangkan Pariwisata, Geosite Jadi Prioritas. https://batam.tribunnews.com/2022/06/08/kadispar-natuna-blak-blakan-kendala-kembangkan-pariwisata-geosite-jadi-prioritas


/Sintha Nuriyah Putri Ningrum - Peserta STIP BATCH 2 - Universitas Negeri Surabaya/


21 views0 comments