• Travelxism

Ilmu Pariwisata dari Sang Petualang: Christian Awuy


Berkesempatan untuk tergabung dalam penelitian membuka jalan meraih kesempatan-kesempatan perjumpaan dengan sosok-sosok baru. Penelitian berkaitan dengan resiliensi pariwisata berbasis komunitas menjembatani perjumpaan dengan para pelaku pariwisata di lokus pilihan, Kawasan Wisata Kaliurang. Pemilik dan pengendara jeep wisata, pengelola dan penjaga akomodasi, hingga penggiat wisata kuliner memiliki daya tarik narasi tersendiri: dalam konteks historis maupun penerimaan terhadap krisis. Kehidupan berdampingan dengan erupsi periodik Gunung Merapi membentuk mentalitas legowo dan nrimo: berbesar hati dalam penerimaan, terkhusus pada masa-masa kebencanaan rutin. Sang Gunung menggelontorkan begitu banyak rezeki dan keuntungan bagi penduduk sekitar sehingga tidak ada alasan untuk tidak minggir sejenak apabila ‘Gunung Merapi sedang hajatan’.


Gambar 1 - Pemandangan dari Ruangan Christian Awuy


Pemahaman terhadap nilai-nilai lokalitas di Kawasan Kaliurang didapatkan melalui konversasi rutin di akhir pekan, dimulai sejak bulan Maret lalu. Jarak tempuh lebih kurang dua puluh lima kilometer diambil dari pusat Kota Yogyakarta dengan kendaraan pribadi. Kebisingan jalan provinsi, kemacetan di titik-titik sibuk, hingga cuaca yang tidak berkompromi telah menjadi teman setia perjalanan mingguan. Solusi terbaik menghadapi kegaduhan batin dalam menyikapi ketidaknyamanan ini adalah memutar lagu-lagu dari musisi kegemaran. Pilihan jatuh pada lagu-lagu di album terbaru Tulus, ‘Manusia’.


Gambar 2 - Pemandangan dari Kafe Wisma Vogels


Tugas untuk meneliti dinamika komunitas lokal pelaku pariwisata menciptakan ruang-ruang pertemuan dan diskusi dengan insan pariwisata dari latar belakang dan perspektif beragam. Pelaku pariwisata yang berkecimpung sebagai bentuk bakti terhadap usaha orang tua atau generasi terdahulu, pemerhati sosial yang mampu membaca peluang dan menerapkan kemampuan berpromosi, hingga akademisi yang berminat mengabdikan hidup bagi pariwisata di Kawasan Kaliurang seluruhnya dapat ditemui dan berinteraksi sesuai porsi. Tak luput pula pelaku pariwisata yang justru meminta saran dan masukan terhadap pengembangan potensi dan atraksi wisata untuk memperkaya kawasan rawan bencana ini. Timbal balik berupa pertanyaan selalu terlontar, “Sudahkah siap dengan tuntutan untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dan memelihara sumber daya?”


Gambar 3 - Skuter di Wisma Vogels


“Kita jalan kaki saja, nggih, Mbak. Dekat, hanya lima menit,” ucap Mas Fajar Sulistya, pembimbing lapangan penelitian ini. Matahari berada tepat di atas kepala kala itu. Namun awan-awan menutupi teriknya matahari dan udara sejuk Kaliurang menghalau rasa tidak nyaman akibat panas berlebih di tubuh. Pasang kaki dilangkahkan menuju rumah seorang kolega di Kaliurang Timur, tepatnya di sisi selatan sebuah hotel megah yang dibangun di tengah pemukiman warga. Sedikit bercengkerama di tengah bulan puasa, perjalanan dilanjutkan menuju Wisma Vogels. Akomodasi yang sudah ada sejak periode kolonial ini menjadi tempat tinggal yang dikelola langsung oleh Pak Chris dan keluarga sehari-hari. Lima menit lamanya kaki melangkah ke sisi barat laut sebelum beberapa skuter listrik menyapa di depan pintu gerbang wisma yang menjadi persinggahan para pendaki Gunung Merapi itu. “Om Chris ada, Mas?” tanya Mas Fajar pada beberapa orang di halaman depan wisma. Pasca bertanya dan memperoleh jawaban dari beberapa orang tersebut, akhirnya perjumpaan dengan sosok Christian Awuy berlangsung di halaman belakang wisma.


Duduk berhadapan dengan sosok legendaris insan pariwisata Kaliurang, Christian Awuy, ternyata memicu jantung berdegup lebih kencang. Ada rasa gugup dan tidak percaya diri untuk melontarkan pertanyaan kepada beliau yang hari itu mengenakan kemeja lengan panjang, celana bahan, serta topi. Udara dingin berhembus, menambah satu lagi alasan untuk bergidik selain kegugupan, diikuti hujan ringan di sepuluh menit pertama. Percakapan dua arah terjadi dengan natural, dimulai dengan bertanya kabar pariwisata Kawasan Kaliurang dan dibalas dengan jawaban aktual dari Pak Chris, begitu beliau akrab dipanggil. “Pariwisata di Kaliurang itu dibangun dan didominasi oleh pribumi. Ketika pandemi atau krisis datang, kami harus bangkit sendiri. Kehadiran organisasi-organisasi lokal serta para tokoh pariwisata menjadi ujung tombak perjuangan kami semua.”


Hujan yang turun semakin deras ternyata menghambat kemampuan mendengar dan meresapi informasi dari Pak Chris sehingga pilihan untuk masuk ke bangunan utama Wisma Vogels diambil.


Gambar 4 - Piagam Christian Awuy


Ruang tengah wisma dihuni oleh empat deretan meja kayu, kursi-kursi di sekitarnya, serta beberapa pajangan dinding berupa gambar-gambar Gunung Merapi dari masa ke masa. Indera penglihatan turut dimanjakan dengan informasi yang ada di gambar tersebut, seperti penanggalan yang dituliskan dengan rapi dan mudah dibaca. Kelanjutan pembicaraan dengan Pak Chris berlangsung di ruangan beliau yang dipenuhi oleh pigura dan buku-buku bersejarah saksi bisu kehidupan Si Insan Pariwisata Indonesia. Lembaran kertas yang lebih tua dari usia masih kokoh namun lembut di tangan seperti memanggil untuk dibaca dan didalami maknanya. Tak lupa pajangan dinding lain yang tak kalah legendaris teman perjalanan Pak Chris membawa tamu mendaki Gunung Merapi: peta tracking via Turgo dan Plawangan berjudul “Kaliurang and Merapi Tourism Map” buatan Pak Chris seorang.



Gambar 5 - Peta Trekking Christian Awuy


Sepuluh menit berikutnya bercengkerama, Pak Chris mengeluarkan sebuah buku berjudul “17th Edition” dengan sampul berwarna hijau emerald. “Ini, ada buku testimoni dari para pendaki,” ucap beliau sambil mengulurkan buku berisi tulisan perjalanan para tamu. Buku yang cukup tebal itu ternyata berisi testimoni dan narasi dari para tamu pendaki dari tahun 2007. Buku edisi ke-17 ini dimulai pada tahun 1980-an, pertama kali Pak Chris membawa tamu mendaki Gunung Merapi, dan masih tersimpan rapi seluruhnya.


“Pak Christian, terima kasih atas pelayanan yang baik serta pengalaman yang tiada duanya. Gunung Merapi sangatlah indah!” keterangan seorang tamu dari Amerika pada 14 Mei 2017.


Kesan seorang tamu dari Amerika membuktikan bahwa eksistensi Pak Chris sebagai pemandu trekking menjadi kunci dari kepariwisataan di Kawasan Kaliurang. Pengetahuan Pak Chris akan jalur dan keamanan dalam trekking menjadikan beliau tokoh berpengaruh dalam wisata alam atau ekowisata. Pemandangan Gunung Merapi yang indah dari Bukit Turgo dan Bukit Plawangan dapat dijumpai oleh tamu-tamu selama durasi kunjungan wisatawan. Udara segar dan autentisitas pengalaman berinteraksi dengan komunitas lokal menjadi daya tarik lain dari kegiatan berwisata di Kawasan Kaliurang.


Kemampuan Pak Chris dalam mengarsipkan catatan perjalanan patut diacungi jempol sebab para tamu yang berkunjung kembali masih mampu menemukan tulisan milik masing-masing pada periode terdahulu. Dorongan lain dalam mendokumentasikan catatan perjalanan para tamu adalah kenangan masa jaya Pak Chris sebagai insan pariwisata di Indonesia yang terus membangun Kawasan Kaliurang sebagai destinasi wisata unggulan. “Kaliurang itu anekdot, bersih dari prostitusi dengan citra sehat untuk berwisata,” tambah beliau.


Gambar 6 - Testimoni Wisatawan


Sebelum berpamitan, Pak Chris menerima bingkisan dari komunitas Search and Rescue (SAR) Kaliurang. Beliau menambahkan cerita berkaitan dengan peran beliau sebagai penduduk asli Kawasan Kaliurang, dimulai dari memelopori banyaknya pergerakan dan inovasi pariwisata hingga menjadi ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Prana Binangun pada tahun 2015. Sebagai tokoh masyarakat, Pak Chris berhasil menorehkan prestasi bagi Kawasan Kaliurang. Sebanyak tiga Rekor MURI dicatatkan, antara lain Ampyang terpanjang (110 cm dengan lebar 20 cm), jadah tempe terbesar (diameter 5 meter), serta wajik terberat (1 ton). Seluruh prestasi itu beliau lakukan guna mempromosikan pariwisata di Kawasan Kaliurang pasca erupsi periodik Gunung Merapi.


Hati ini bergetar saat Pak Chris menyampaikan satu kalimat penutup perjumpaan siang hari itu, “Tidak apa-apa saya harus menanggung biaya maupun keperluan terlebih dahulu, asalkan demi Kaliurang dan masyarakatnya berkembang.”. Tidak mudah bagi pelaku pariwisata untuk menganut prinsip demikian, terlebih sektor pariwisata memiliki daya tarik perekonomian kian meningkat. Tujuan utama dari Pak Chris bersifat sederhana, yaitu memajukan komunitas lokal serta meningkatkan keterlibatan seluruh lapisan komunitas lokal pelaku pariwisata. Jika seluruh insan pariwisata memiliki perspektif dan orientasi yang sama, apakah sudah bisa membayangkan perkembangan pariwisata Indonesia menuju pemberdayaan manusia maupun lingkungan di masa depan?


Ucapan terima kasih kepada Mas Fajar Sulistya yang memfasilitasi pertemuan dengan Pak Christian Awuy.


/Audrey Samantha - Universitas Gadjah Mada/


20 views0 comments