Keindahan Masa Lalu di Kepulauan Banda

Ngomongin masa lalu memang tidak ada habisnya ya travelovers. Bukan karena tidak bisa move on, tapi memang ada sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan. Seperti masa lalu Indonesia nih travelovers. Tidak hanya meninggalkan luka ketika jaman penjajahan, tapi juga anugerah yang bisa dinikmati oleh generasi sekarang. Memang benar apa yang pernah dikatakan oleh Soekarno, “Jasmerah!”, jangan sekali-kali melupakan sejarah karena tanpa sejarah Indonesia tidak mungkin ada.

Nah, ngomong-ngomong masalah sejarah, TRAVELXISM jadi ingin bernostalgia sedikit nih. Kebetulan sekarang TRAVELXISM sedang ada di Kepulauan Banda, tepatnya di Banda Neira. Eitss, ini bukan Banda Neira yang menyanyi sampai jadi debu itu ya travelovers, tapi ini sebuah pulau yang bernama Banda Neira di Maluku Tengah.


Benteng Dibalik Gunung Api


foto : kebudayaan.kemdikbud.go.id


Travelovers tahu ngga sih kalau Pulau banda Neira ini dulu merupakan salah satu kepulauan yang paling diperebutkan di masa kolonial. Hampir semua penjajah ingin memiliki pulau ini lho travelovers. Hal ini karena Banda Neira merupakan penghasil Pala terbaik dan merupakan pusat perdagangan pala pada masa itu. Bahkan demi mempertahankan pulau ini, Belanda sampai membangun sebuah benteng diatas bukit. Kepulauan di balik Gunung Api ini ternyata menyimpan sejarah kolonial yang cukup lengkap travelovers. Banyak bangunan yang bisa dikunjungi di sana, salah satunya ya Benteng Belgica yang dibangun VOC.

Benteng Belgica dibangun pada tahun 1611 pada masa pimpinan Gubernur Jendral Pieter Bot. Benteng ini dulunya difungsikan sebagai menara pengawas kapal pedagang yang masuk di wilayah Banda. Karena lokasinya yang berada di atas bukit, maka travelovers bisa melihat penjuru banda sejauh mata memandang. Perpaduan hijau perbukitan dan birunya lautan menjadi kombinasi pemandangan yang pas.


Istana Mini Banda yang Penuh Kesedihan


foto : ftp.triptrus.com


Disebut istana mini sebab bentuk dan gaya bangunanya sama dengan Istana Negara yang di Jakarta. Hanya saja yang ini ukurannya lebih kecil. Istana Mini Banda ini dibangun sebagai tempat tinggal Gubernur Jendra VOC sekaligus digunakan sebagai tempat menjalankan administrasi negara. Tidak banyak yang bisa dikenang di istana ini selain lubang di salah satu sudut rumah akibat tembakan meriam dan jendela bertuliskan pesan terakhir seorang Prancis sebelum dia gantung diri di istana tersebut. Istana mini ini memang terkenal dengan kesedihan yang ada di dalamnya.

Oh ya travelovers istana yang ada sekarang ini hanya replika ya, karena yang asli sudah hancur karena dihantam gempa yang menimpa kepulauan banda. Akan tetapi, meskipun replika, segala isi dan arsitektur belanda bangunan ini masih dipertahankan.


Rumah Budaya Banda sebagai Saksi Sejarah


foto : astinsoekanto.com


Bangunan ini dulunya adalah tempat tinggal petinggi VOC travelovers. Dibangun dengan gaya arsitektur Belanda yang khas, rumah ini masih terjaga sampai sekarang. Di dalam rumah ini terdapat banyak catatan sejarah dalam bentuk lukisan dan meriam. Terdapat banyak jenis meriam di rumah ini. Selain itu, kalau travelovers ingin melihat suasana pada zaman kolonial belanda, di dalam rumah ini terdapat beberapa lukisan yang dapat menggambarkan suasana pada masa itu. Termasuk satu lukisan di ruang tengah yang melukiskan pembantaian petinggi banda di depan keluarga mereka.


Kelenteng Sun Tien Kong


foto: travel.kompas.com


Meski penjajah belanda tidak pergi ke kelenteng, namun di Banda Neira terdapat satu kelenteng yang usianya sudah 300 tahun lho travelovers. Konon kelenteng ini dibangun oleh seorang Cina yang kebetulan sedang berdagang di sana. Menurut catatan sejarah Johan Sigmud Wurfbbain, konon kelenteng ini dibangun tepat disamping sebuah kedai minum anggur.


Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Sutan Syahrir


foto : telusuri.id


Travelovers ternyata Banda juga pernah menjadi saksi diasingkannya dua pejuang kemerdekaan Indonesia lho. Mereka adalah wakil presiden pertama yakni Mohammad Hatta dan pemuda revolusioner Sutan Syahrir. Keduanya dibuang ke banda pada tahun 1936. Sampai di sana mereka menempati rumah yang sama selama beberapa bulan, hingga kemudian Sutan Syahrir dipindahkan dan tinggalah Hatta sendiri di rumah tersebut.

Kini rumah bekas pejuang itu masih berdiri tegak travelovers dan bangunannya masih sangat terawat. Hanya saja ketika masuk tidak ada peninggalan sejarah yang berarti. Yang ada hanyalah beberapa foto yang menggantung di dinding.


Diabadikan Dalam Uang Kertas


foto: seputar-rimba.blogspot.com


Bagi travelovers yang belum berkesempatan ke Banda, tenang. Kalian bisa dengan mudah melihat Kepulauan Banda di mana-mana. Sebab kini Kepulauan Banda sudah banyak beredar dalam bentuk uang kertas 1000 rupiah.

Keindahan Banda memang tidak bisa dipungkiri. Dibalik tegaknya dan percaya dirinya gunung api, tersimpan keindahan laut dan darat yang tidak bisa dipungkiri lagi. Selain itu, nilai sejarah juga menjadi pertimbangan kenapa pulau tersebut akhirnya diabadikan dalam bentuk mata uang. /Ajeng/


Bagitulah kisah Banda Neira yang akan selalu menyimpan sejarah kolonoal belanda. Banda pernah berjaya pada masanya karena rempah, maka bukan tidak mungkin kini dia akan berjaya kembali karena pariwisata. Ayo ke Banda travelovers!


#MalukuTengah #Indonesia #Wisatasejarah #PesonaIndonesia #PulauBanda #PulauBandaNeira #SejarahBanda #SejarahBandaNeira #SejarahPulauBanda #BentengBelgica #Wisatabentengsejarah #Sejarah #Rumahpengasingan #RumahpengasinganBungaHatta #wisatasejarahbanda #wisatabanda #Travel #Traveller #Travelkebanda #TravelingkebandaNeira #Travelblogger #Travelxism #Infotravelxism #Travelxismdotcom #Infotravel #Travelingseru #KelilingIndonesia #NapakTilasSejarah #NapaktilassejarahdiPulauBanda #LiburankeBandaNeira #Liburanseru #SejarahIndonesia #WisatasejarahIndonesia

0 views