• travelxism

Kembali Berwisata, Bukit Lintang Sewu Menjadi Solusi


Photo by: Aditya Prasetya Aji – Peserta STIP Travelxism – Universitas Sebelas Maret

Musim liburan sepertinya sudah tiba. Akhir-akhir ini jalanan Kota Jogja mulai padat mobil plat luar Jogja dan bus berisi rombongan yang hendak berwisata. Liburan memang hal yang ditunggu oleh masyarakat setelah mereka melakukan aktivitas dan kesibukan dalam kehidupannya. Sektor pariwisata memang baru saja dibuka kembali. Hal tersebut juga mempengaruhi kepadatan wisatawan pada beberapa minggu kebelakang ini. Syarat berpergian keluar kota juga sudah mulai longgar. PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarat di Kota Jogja sudah menurun ke level 2. Kebijakan PPKM di Indonesia sudah diberlakukan sejak awal tahun 2021 sebagai upaya pemerintah untuk menanggulangi pademi Covid-19 yang semakin meningkat pada waktu itu . Sudah lebih dari setengah penduduk Indonesia yang melakukan vaksinasi Covid-19.


Tak hanya satu dua orang saja yang ingin mendatangi Kota Jogja yang terkenal dengan Kota Istimewa dengan ciri khas Gudeg sebagai oleh-olehnya. Namun faktanya banyak orang yang rindu dengan Kota Jogja setelah mereka meninggalkan nya.

“…terbawa lagi langkahku kesana, mantra apa entah yang istimewa, ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja”, mungkin penggalan lirik lagu Adhitia Sofyan yang berjudul Sesuatu di Jogja menjadikan Kota Jogja mempunyai keajaiban tersendiri untuk beberapa orang.


Bukit Lintang Sewu merupakan sebuah destinasi wisata yang berada di daerah Desa Wisata Mangunan, tepatnya 26 kilometer dari Tugu Jogja. Tak pernah kehabisan tempat wisata, Jogja selalu menjadi kota yang menyuguhkan segala atraksi wisata di dalamnya. Dari sebanyak 5 kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, mereka mempunyai ciri khasnya tersendiri. Jika di Gunungkidul travelovers dapat menikmati indahnya pantai, maka di Bantul travelovers bisa menikmati sejuknya pepohonan pinus dari belasan destinasi di Desa Wisata Mangunan. Namun berbeda dengan wisata Mangunan lainnya, Bukit Lintang Sewu lebih di dominasi oleh pepohonan Minyak Kayu Putih. Dari pintu masuk, travelovers sudah bisa merasakan aroma dari daun Minyak Kayu Putih yang ada di sekitar wisata.


Hal menarik akan travelovers temukan di Bukit Lintang Sewu. Sejauh mata memandang, travelovers akan melihat perbukitan hijau yang dapat dilihat dari atas panggung yang letaknya berada di belang kawasan wisata. Spot ini menjadi andalan Bukit Lintang Sewu karena dari situlah pengunjung benar-benar merasakan indahnya Kota Jogja. Banyak sudah cerita dari pengunjung yang akhirnya menjadi kenangan tak terlupakan, Pak Bejo selaku pengelola Bukit Lintang Sewu bercerita jika ada seorang pengunjung yang mempunyai cerita romansa dan kembali lagi khusus untuk bernostalgia di Bukit Lintang Sewu untuk mengenang masa itu.


“… dulu ada pasangan yang pernah nge-camp di pinggir panggung ini untuk melihat sunset, lalu beberapa waktu lalu mereka kembali lagi dengan membawa anak dan bernostalgia.”, ucap Pak Bejo.


Tak sampai disitu saja, “…itu kan arah utara, jadi dari panggung ini pernah saya melihat jelas moment saat Gunung Merapi mengeluarkan lahar. Sehingga Merapi itu juga menjadi salah satu penuntun proses kita saat membangun tempat wisata ini”, kata Pak Bejo.


Dari situ pula, banyak cerita dari Bukit Lintang Sewu yang membuat takjub. Walaupun awalnya Bukit Lintang Sewu di buka tanpa perencanaan yang tepat, namun mereka belajar dari kesalahan yang ada dan membenahi hingga terbentuk wisata yang seperti ini. Dulu, pengelola dan anggota dalam Bukit Lintang Sewu hanya beranggapan jika mereka mempunyai spot foto pasti ada orang yang akan datang berwisata. Ternyata untuk membuka tempat wisata bukanlah hal yang mudah, banyak aturan-aturan yang harus mereka ikuti apalagi destinasi naungan Koperasi Noto Wono mempunyai tema “Wana Wisata Budaya Mataram”. Akhirnya, Bukit Lintang Sewu menemukan keunikannya sendiri yaitu view yang terpancar dari atas panggung.


Terlihat dari penamaannya, Bukit Lintang Sewu memiliki arti yaitu Bukit Bintang Seribu. ‘Lintang’ memiliki arti ‘Bintang’, lalu Sewu berarti ‘Seribu’. Persis dari atas panggung ini pula kita dapat melihat ribuan lampu Kota Jogja dan sekitarnya menyala selayaknya bintang yang menghiasi langit malam. Indahnya lampu Kota Jogja sangat memberikan kesan romantis kepada wisatawan yang menikmati dinginnya malam di tempat ini. Dari alam terbuka, wisatawan dapat menikmati kesejukan asri perbukitan dan ribuan pohon yang mengelilingi destinasi.


Memanglah waktu tepat untuk duduk bersantai di panggung Bukit Lintang Sewu saat menjelang sunset hingga malam tiba, kesan berbeda akan travelovers rasakan. Panggung berukuran besar berbentuk bintang yang terbuat dari kayu kokoh menjadi tempat menikmati sunset dan indahnya Kota Jogja pada malam hari. Di lengkapi pula dengan tempat duduk didepan panggung yang berguna sebagai kursi penonton saat panggung digunakan sebagai tempat pagelaran sebuah acara. Namun tempat duduk tersebut juga dapat menjadi spot berfoto untuk wisatawan yang berkunjung.


Bukit Lintang Sewu menjadi solusi travelovers jika ingin berwisata sekaligus mencari hal yang berbeda yang sebelumnya belum pernah ditemukan. Walaupun objek seperti ini tidak hanyalah ada di satu tempat saja, namun Bukit Lintang Sewu mempunyai ciri khas tersendiri yaitu boneka bear yang menjadi icon saat berfoto diatas panggung dengan properti kasur selayaknya sedang di kamar. Selain itu, travelovers juga dapat bermalam di glamping ataupun camping ground yang sudah menyediakan dom (tenda). Dengan range harga glamping Rp 600.000 – Rp 700.000 untuk kapasitas 4 orang, travelovers sudah dapat menginap dengan fasilitas setara dengan hotel berbintang. Hal tersebut dapat dibuktikan karena glamping dari Bukit Lintang Sewu memang di dukung oleh beberapa hotel berbintang yang ada di kota Yogyakarta.


Apakah Bukit Lintang Sewu menjadi solusi travelovers kembali untuk berwisata?


/Zharifah Mutia Khansa – Peserta STIP Travelxism – Universitas Semarang/



28 views0 comments