KREATIF! Mitos Ombak Bono di Teluk Meranti Disulap Jadi Pariwisata

Bukan orang Indonesia kalau segala ide dan pemikirannya tidak kreatif. Perlu di ingat ya travelovers, bahwa people di negeri ini memang sungguh amat kreatif meski kadang terlalu kreatif hehehe. Tapi travelovers, menjadi kreatif kadang juga bermanfaat lho. Bahkan tidak main-main, manfaatnya bisa berimbas pada banyak orang, seperti yang terjadi di Desa Teluk Meranti, Pelalawan, Riau.

Desa yang dibelah oleh aliran Sungai Kampar ini memiliki panorama pesisir sungai yang indah. Tapi bukan panorama pesisir yang ditawarkan desa ini travelovers. Melainkan Ombak Bono yang sangat terkenal hingga mancanegara. Bahkan desa ini juga sempat memenangkan penghargaan sebagai Desa Terbaik kategori Kreatif dari Kementrian Desa lho.

Penasaran ngga sih travelovers? Seberapa kreatif sih desa ini? Nah berikut ulasan TRAVELXISM tentang Desa Teluk Meranti ini.


Berawal Dari Mitos






Seperti yang sudah Travelxism tulis di atas, sesuatu yang ditawarkan Desa Teluk Meranti ini adalah Ombak Bono. Tapi tahukah travelxism apa itu Ombak Bono?

Baik, tidak usah berkecil hati bagi yang belum tahu, karena TRAVELXISM akan menjelaskannya. Jadi travelovers, Ombak Bono itu merupakan suatu fenomena alam di Sungai Kampar. Ombak ini cukup tinggi travelovers, sampai-sampai bisa digunakan untuk berselancar. Ombak Bono merupakan suatu fenomena alam yang terjadi akibat adanya pertemuan arus sungai menuju laut dan arus laut yang masuk ke sungai akibat air pasang.

Nah travelovers, konon, para leluhur Desa Teluk Meranti menganggap Ombak Bono merupakan sebuah bencana. Bagi mereka, ombak tersebut merupakan sebuah pemandangan yang mengerikan dan ditakuti, yang bahkan sering kali menelan korban. Namun itu dulu, saat penjelasan ilmiah belum ada. Sekarang Ombak Bono sudah jadi objek wisata, bahkan destinasi pariwisata yang berkelanjutan.


Pesona Ombak di Sungai Kampar





Nah, ombak besar di laut itu sudah biasa ya travelovers. Bagaimana kalau mbak besar itu berada di sungai? WOW Itu baru fenomena yang luar biasa, sebuah sungai dengan ombak yang besar.

Umumnya sungai hanya memiliki riak atau gelombang kecil saja kan travelovers, namun di hilir Sungai Kampar, ombak sungai dapat mencapai ketinggian enam meter. Cukup tinggi bukan? Nah, pertemuan arus hilir Sungai Kampar dengan ombak besar dari laut inilah yang kemudian menciptakan Ombak Bono. Oleh warga setempat ombak tersebut terkenal dengan tujuh hantunya.

Disebut demikian karena saat ombak ini datang, katanya bisa sampai ada tujuh lapis ombak lho travelovers. Dengan satu ombak besar memimpin di depan, yang kemudian diikuti enam ombak kecil dibelakangnya. Sungguh menakjubkan bukan travelovers? Satu ombak di laut saja sudah terlihat memesona, apalagi tujuh lapis dan di sungai. Tidak heran jika banyak sekali wisatawan yang datang.


Festival Bekudo Bono



Mulanya, Ombak Bono bukanlah merupakan sesuatu yang menarik. Ketinggian dan keindahan ombak sungai ini adalah hal yang biasa. Sampai pada suatu ketika pemerintah setempat berinisiatif menjadikan ombak tersebut sebagai salah satu destinasi pariwisata berkelanjutan yang mensejahterahkan warga sekitar teluk. Diawali dengan Festival Bekudo Bono, Ombak Bono pun menjadi agenda tahunan yang tidak boleh dilewatkan oleh para pecinta ombak.

Hampir setiap tahun acara tersebut selalu ramai didatangi oleh peselancar lokal maupun asing. Kebanyakan Warga Teluk Kampar berhasil mengubah sebuah fenomena alam yang semula dianggap bencana menjadi sebuah destinasi pariwisata berkelanjutan yang bermanfaat bagi perekonomian warganya. Mereka mempromosikan festival tersebut hingga sampai ke mancanegara.

Siapa sangka, gelombang cepat dengan suara gemuruh keras dengan kecepatan 40 kilometer per jam itu berhasil menarik wisatawan. Surfing di sungai, bisa naik setinggi 4 sampai 6 meter, dan barrel yang cukup bagus adalah hal yang disukai peselancar. Dan, tahun ini recananya festival tersebut akan diselenggarakan pada bulan November travelovers. Jadi tunggu apa lagi, catat tanggal mainnya.


Begitulah kisah tentang Ombak Bono. Pada akhirnya mereka memang berhak mendapatkan penghargaan Kreatif tersebut. Sebab telah berhasil membuat sebuah fenomena alam yang dianggap mitos dan momok menakutkan menjadi sebuah acara berskala Internasional. Berdasarkan paparan Kepala Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pelalawan, Andi Yuliandri, sekitar 20 ribu pengunjung turut menyaksikan festival tersebut pada 2018. Tidak heran jika acara tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu destinasi parisiwata berkelanjutan yang mengembangkan alam dan memberdayakan warga. Selain itu, perekonomian warga sekitar juga semakin meningkat, sebab pengunjung yang datang pasti membutuhkan tepat menginap, makanan, atau bahkan oleh-oleh. Maka festival tersebut merupakan ladang ekonomi yang luar biasa bagi warga Desa Teluk Meranti. Jadi, tunggu apa lagi. Mari berselancar di Sungai Kampar! /Ajeng/



#Riau #indonesia #asia #DesaTelukMeranti #Pelalawan #SungaiKampar

#panoramapesisirsungai #OmbakBono #DesaTerbaikkategoriKreatif #DesaKreatif #PesonaRiau #PesonaTelukMeranti #PesonaDesaTelukMeranti #PesonaIndonesia #PesonaOmbakBono #berselancar #OmbakSungai #destinasipariwisataberkelanjutan #FestivalBekudoBono #peselancarlokal #PerselancarAsing #Internasional #Surfing #penghargaanKreatif #mitos #SustainbleTourism #KelilingDesaTelukMeranti #travelovers #travelxism #travel #traveling #travelbloger #muslim #islam #kamuharustahu #viral #dolanjogja #wonderfulriau #wonderfulindonesia #visitindonesia #visitRiau #infotravelxism #travelxismdotcom

0 views