Labuhan, Tradisi unik yang masih bertahan

Yogyakarta merupakan kota yang masih memiliki Kerajaan aktif hingga saat ini, jadi kota ini masih memiliki tradisi dan adatnya yang kental dan tetap terjaga. Salah satu tradisi unik di Yogyakarta yang masih terjaga hingga saat ini yaitu Upacara Adat Labuhan. Kali ini, Travelxism akan mengulas mengenai Upacara Adat Labuhan yang akan menguatkan alasan Travelovers untuk mendatangi kota budaya Yogyakarta ini.


1. Labuhan Sejak Kerajaan Mataram Islam

Labuhan adalah salah satu upacara adat yang dilakukan oleh Raja-raja di Keraton Yogyakarta. Upacara adat ini dilakukan untuk memohon keselamatan untuk Kanjeng Sri Sultan, Kraton Yogyakarta dan rakyat Yogyakarta. Upacara yang sudah ada sejak jaman kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII, hingga sekarang masih diselenggarakan secara teratur dan masih berpengaruh dalam kehidupan sosial penduduk di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kata “labuh” artinya mirip kata “larung” yang bermakna membuang sesuatu ke dalam air baik sungai atau laut. Travelovers harus tau nih, kalau upacara ini katanya memiliki makna magis lho!


foto : kratonjogja.id



2. Tidak hanya di Yogyakarta

Upacara ini biasanya dilakukan di Yogakartaka, tapi Travelovers tahu gak sih, kalau upacara ini dilakukan di beberapa tempat dan letaknya berjauhan. Masing-masing tempat itu mempunyai latar belakang sejarah tersendiri yang dianggap berkaitan dengan para leluhur raja. Tempat-tempat diadakannya upacara ini antara lain yaitu, pertama Dlepih Kahyangan, terletak di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah. Tempat yang kedua adalah Pantai Parangkusomo, di sebelah selatan kota Yogyakarta, di tepi Lautan Indonesia (Laut Selatan). Tempat berikutnya yaitu di Puncak Gunung Lawu, di perbatasan Surakarta dan Madiun, dan yang terakhir yaitu di Puncak Gunung Merapi, letaknya masuk di dalam wilayah Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


Foto : kratonjogja.id

3. Dari setiap tahun sampai 8 tahun sekali

Menurut tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara labuhan dilakukan setiap tahunnya seperti satu hari setelah Jumenengan (penobatan seorang raja), satu hari setelah Tingalan Jumenengan (peringatan satu tahun penobatan raja) yang biasanya disebut dengan Labuhan Alit. Namun ada juga yang dilakukan setiap 8 tahun sekali seperti Labuhan Ageng. Upacara labuhan juga akan diselenggarakan pada saat peristiwa tertentu, misalnya apabila Sri Sultan menikahkan putera-puterinya.


foto : myimage.id


4. Persiapan Upacara Labuhan

Banyak perlengkapan yang dipersiapkan yang dilakukan menjelang Upacara Labuhan, seperti Apem (gunungan), Panjenengan Dalem yang telah dibungkus kain putih dan dipayungi, kain batik, rambut dan kuku milik Sri Sultan yang dikumpulkan selama satu tahun. Bukan hanya itu, benda-benda dan bahan-bahan yang dipersiapkan juga berupa kemenyan, bahan kosmetik tradisional, ‘konyoh’ minyak wangi, rokok klobot wangi, tikar, nampi, bubuk dupa (cupu), pundi-pundi (kampek), mata uang dan beberapa tempat khusus untuk minyak wangi, atau bubuk dupa, juga harus disiapkan. Persiapannya butuh ekstra tenaga deh Travelovers.


foto : kratonjogja.id


Banyak sekali wisatawan yang datang ke Yogyakarta untuk menyaksikan Upacara Labuhan ini lho Travelovers. Suasana khidmat dan magisnya upacara semakin membuat acara labuhan menjadi menarik. Travelovers semoga bisa menyaksikan secara langsung ya upacara ini bersama Tim Travelxism ya!/ /Amorita/


#Yogyakarta #Indonesia #UpacaraLabuhan #LabuhanAgeng #LabuhanAlit #UpacaraAdat #UpacaraTuruntemurunYogyakarta #keratonYogyakarta #TradisiKeratonYogyakarta #Religi #Parangkusumo #pantaiParangkusumo #Gunungerapi #GunungLawu #DlepihKahyagan #Apem #PanjengenganDalaem #kainbatik #Srisultan #UoacaraMagis #Asia #PariwisataIndonesia #TravelIndonesia #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #PariwisataIndonesia #Travelxism #InfoTravelxism #Travelxismdotcom #PariwisataBerkelanjutan #Sustainabletourism #BudayaYogyakarta #WonderfullYogyakarta

0 views