LAWE INDONESIA: Globalkan Kain Lokal, Dorong Perempuan Berdaya

Kain tenun lurik mungkin memang belum sepopuler kain batik di Jogjakarta, namun sebenarnya ia memiliki potensi yang luar biasa. Potensi itulah yang dilihat oleh Lawe Indonesia, sebuah community social enterprise yang bergerak di bidang pengembangan tenun tradisional Indonesia melalui pemberdayaan perempuan.


Bagaimanakah usaha Lawe Indonesia melestarikan kain tenun lurik? Fitria Werdiningsih, Communication Manager Lawe Indonesia, membagikan ceritanya tentang Lawe Indonesia kepada Travelxism.


Foto: Lawe Indonesia

Usung Misi Pemberdayaan Perempuan


Berasal dari Bahasa Jawa lama, Lawe berarti serat alam yang ditenun. Sesuai namanya, Lawe memiliki tujuan untuk melestarikan kain tenun tradisional. Di samping itu, brand yang didirikan Adinindyah, Ita Natalia, Paramita Iswari, Rita Anita dan Westiani Agustin pada tahun 2004 ini juga turut mengemban misi utama pemberdayaan perempuan.


Tujuan mulia tersebut menjadi penyemangat Lawe pada misi untuk menjadi leader gerakan pelestarian tenun tradisional Indonesia dan menjadi penyedia beragam produk berbahan kain tenun tradisional Indonesia yang berkualitas tinggi. “Lawe ingin menjadi jembatan antara penenun dengan produk modern,” ujarnya.


Foto: Proses Membuat Tenun Lurik

Fitria menambahkan bahwasanya kain tenun lurik adalah contoh potensi kain tenun tradisional Indonesia yang dulunya belum bisa bicara soal pasar. Hal tersebut disadari usai dua orang founder Lawe menyelesaikan tugas pendampingan mengenai kain tenun tradisional di Sumba.


Para penenun Sumba pada waktu itu menenun hanya sekedar menenun, produk dijual ketika membutuhkan uang saja. Bahkan terkadang mereka menjual kain tenun tersebut dengan harga yang terlalu murah. “Melihat kondisi itu dua founder Lawe seperti, oh kalau di Sumba seperti ini, jangan-jangan di Jogja juga mengalami persoalan yang sama?,“ urai perempuan kelahiran Pacitan ini.


Dugaan dua founder Lawe itu pun benar, dipertemukanlah mereka dengan kain tenun lurik. “Kain tenun lurik identik dengan kaum proletar karena banyak digunakan oleh kusir andong, buruh gendong,“ kata Fitira. Lurik juga identik dengan kesan kuno karena warna-warna yang digunakan. “Kalau begini terus nggak akan berkembang pasarnya,” imbuh Fitria.

Melihat kondisi tersebut, Lawe mencoba menjembatani penenun lurik dengan pasar modern. Mulai dengan melayani permintaan kain tenun lurik dengan warna cerah, hingga mengubah lurik menjadi produk modern fungsional seperti dompet, tas, tempat laptop dan lain-lain.


Berbicara mengenai pemberdayaan perempuan, Lawe menerapkan pendekatan Mother Friendly Workhing Hours dan Emphatical Design. “Penjahit Lawe mayoritas perempuan dan bekerja di rumah, jadi jam kerjanya terserah mau jam berapa, yang penting target yang disepakati bisa terpenuhi. Target jumlah jahitan dan deadline juga kami konsultasikan ke mereka dulu,” jelasnya.


Foto: Penjahit Tuna Rungu Lawe Indonesia

Sedangkan untuk empathical design, Fitria menjelaskan bahwa Lawe tidak memaksakan kemampuan pengrajin mereka. Apabila pengrajin hanya mampu menjahit lurus, maka tidak akan dipaksa membuat produk berbentuk melengkung. “Lawe tahu jika dipaksakan mereka akan tersiksa dan hasil tidak akan lolos quality control, jadi kami sesuaikan kemampuan penjahit.”


Regenerasi Penenun Menjadi Urgensi


Tantangan terberat yang dihadapi Lawe menurut Fitria adalah regenerasi. “Pekerjaan menenun, its not a cool job for youngster, mungkin karena kompensasinya kurang menarik. Di Jogjakarta, sampai saat ini masih belum banyak program yang menggaungkan regenerasi penenun, untuk itu Lawe berusaha meningkatkan pendapatan penenun, sehingga nantinya bisa memberikan penawaran yang menarik bagi generasi muda,” terangnya.


Foto: Mengajarkan Proses Menenun Pada Generasi Muda

Selain tantangan tersebut, selama masa pandemi, Fitria mengaku pendapatan Lawe menurun karena pelarangan kunjungan turis mancanegara ke Indonesia. Meskipun demikian, pada misi pemberdayaan, Lawe justru mengalami peningkatan melalui adanya pelatihan online.


Banyaknya tantangan yang dihadapi Lawe, tak sebanding dengan sukacita yang dirasakan. Contohnya ketika Lawe bisa berkeliling Indonesia untuk menyebarkan misi pelestarian kain tenun tradisional juga ketika Lawe bisa melihat antusias ibu-ibu dalam mengikuti pelatihan yang diberikan. “Hal sederhana tapi diapresiasi sedemikian besar, itu luar biasa,” tutur Fitria menegaskan.


Foto: Pelatihan Diversifikasi Produk Ensaid Panjang

Soal pencapaian, ia mengutarakan bahwa Lawe merupakan perintis yang mengubah kain tradisional menjadi produk fungsional. “Dulu Lawe adalah pemain tunggal yang mengubah kain tenun tradisional menjadi produk fungsional dalam ajang Inacraft. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, banyak produsen yang melakukan hal serupa. Berarti Lawe bisa menjadi contoh untuk produsen lain. Meskipun itu berarti juga memunculkan kompetitor baru, tapi itu adalah pencapaian,” ujarnya mantap.


Foto: Tim Lawe Indonesia

Mengakhiri cerita, Fitria mewakili Lawe Indonesia berpesan untuk siapapun yang ingin atau sedang bergerak di bidang yang sama untuk peka terhadap potensi yang ada. “Kenali potensi di sekitar kita, apa yang bisa jadi potensi ekonomi. Selanjutnya harus berkomitmen. Jalan tidak selalu lurus dan baik-baik saja, tapi kalau kita mau, pasti ada jalan. Kalau belum tahu mau mulai dari mana, mulai saja dulu. Guru itu datang kalau murid sudah siap.”/LISA/


Narasumber: Fitria Werdiningsih, Communication Manager Lawe Indonesia


*Travelxism adalah sebuah startup yang mendukung pariwisata berkelanjutan melalui consultant services berupa penyelenggaraan pelatihan, workshop, produksi media promosi (cetak dan digital), sustainable tour package, dan virtual tour*