• Travelxism

Masyarakat dan Para Ahli Bersuara! Pro dan Kontra Wacana Kenaikan Tarif Borobudur


sumber : suaramerdeka.com


Halo, Travelovers!


Siapa sih yang tidak tahu tentang Candi Borobudur? Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814. Candi yang sempat masuk ke dalam 7 keajaiban dunia ini telah beberapa kali mengalami pemugaran (perbaikan kembali) untuk melindungi dan menyelamatkan peninggalan sejarah yang ada. Saat ini Candi Borobudur menjadi salah satu daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang ramai di kunjungi karena candi ini adalah salah satu candi Buddha terbesar di dunia serta memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Beberapa waktu yang lalu ramai perbincangan di media sosial terkait wacana kenaikan tarif tiket masuk Borobudur yang cukup fantastis. Wacana kenaikan tarif tiket masuk candi yang berada di Magelang, Jawa Tengah ini dinilai tidak wajar dan memberatkan wisatawan. Pasalnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan, memutuskan kenaikan harga tiket masuk menjadi Rp750 ribu untuk wisatawan lokal serta US$100 atau sekitar Rp1,4 juta untuk wisatawan asing.


Akan tetapi, banyak yang salah kaprah terkait kenaikan harga tiket ini lho, Travelovers. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menjelaskan tarif tiket Rp750 ribu adalah tarif untuk naik ke bangunan Candi Borobudur. Sementara tiket masuk Candi Borobudur masih sama, yaitu Rp50 ribu. Perlu diketahui bahwa tarif tiket masuk ini membatasi wisatawan hanya sampai di pelataran candi dan tidak memperbolehkan wisatawan untuk naik ke atas bangunan candi.


sumber : bisnis.tempo.co


Eits, wacana kenaikan tarif ini bukan karena tanpa sebab, lho! Selama ini rata-rata pengunjung yang naik ke atas bangunan Candi Borobudur sebelum pandemi bisa mencapai 10 ribu pengunjung per hari. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan dikarenakan peninggalan sejarah tersebut terancam rusak karena adanya penurunan yang diduga diakibatkan oleh beban berlebih dari wisatawan. Wacana pemberlakuan tarif ini ditujukan untuk pengurangan kuota wisatawan yang hendak naik ke atas bangunan candi, yaitu hanya sebanyak 1.200 pengunjung.


Alasan lain yang mendukung pembatasan jumlah pengunjung ini merupakan sebuah upaya konservasi Candi Borobudur sebagai bentuk warisan budaya. Luhut mengatakan bahwa kebijakan ini muncul atas rekomendasi dari UNESCO dan para pakar.


"Jadi Borobudur tidak bisa lagi semua orang naik ke atas karena sudah mulai 'tenggelam'. Jadi akan dibatasi 1.200 orang per hari," ungkapnya.


Banyak respon warganet yang mendukung maupun menentang kebijakan tersebut. Salah satu dukungan muncul dari akun Instagram yang menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk upaya perlindungan Candi Borobudur.

Positif thinking, mungkin upaya perlindungan dari yang mau ngerusak, kalau mahal otomatis jadi sedikit yang masuk dan lebih bisa dipantau (cuit akun @barsnap).


Ada pula yang membandingkan tarif tiket masuk Candi Borobudur pada tahun 2016 dengan kebijakan terkini serta mempertanyakan bagaimana nasib penjual di Kawasan Borobudur.


Waktu masuk Candi Borobudur Tahun 2016 harga tiketnya 35.000, itupun aku rasa mahal. Terus yg jualan disitu sepi pembeli. Gimana kalau dinaikin jadi 750.000? Ya dikira2 aja pak kalau mau naikin harga, jangan sampai kaya gitu harganya. Ngeri (cuit akun @tin_ersa_fbrn).


Menanggapi saran dan kritikan yang masuk dari berbagai pihak tersebut, pada hari Selasa (7/6/2022) pemerintah memutuskan untuk melakukan penundaan atas kenaikan tarif naik ke bangunan Candi Borobudur untuk dikaji lagi bersama Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur dan Balai Konservasi Borobudur.


Menurut kalian gimana nih, Travelovers? Sudah seharusnya cagar budaya terus dilestarikan dan dilindungi sebagai warisan masa depan. Peninggalan sejarah yang tersimpan memberikan banyak pelajaran. Cagar budaya memiliki peranan penting untuk fungsi pengetahun dan daya tarik pariwisata. Segala bentuk kegiatan yang berpotensi merusak peninggalan bersejarah perlu dihindari. Oleh sebab itu, kita memerlukan kebijakan dan regulasi agar risiko kerusakan dapat dikurangi. Hal ini tentu membutuhkan kerjasama antara pemerintah, pengelola wisata, hingga masyarakat agar pelestarian dan perlindungan dapat terlaksana dengan baik. Akan tetapi, kebijakan yang ditetapkan perlu memperhitungkan dampak positif dan negatifnya. Kebijakan yang baik tentu tidak hanya menguntungkan sebelah pihak, tetapi dapat memberikan kebermanfaatan untuk bersama.


/Revian Farhan - Peserta STIP Batch 2 - Universitas Negeri Sebelas Maret/


14 views0 comments