• travelxism

Mengenal Lebih Dekat Candi Banyunibo Si Jomblo yang Menawan

Pernahkah kamu menyadari orang-orang dahulu punya cara tersendiri untuk berkomunikasi dengan masa depan. Saat itu aku melakukan explore ke enam titik destinasi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Banyunibo adalah salah satu tujuan yang akan aku kunjungi. Di perjalanan aku melihat bentang sawah yang berwarna hijau kehidupan. Sebentar lagi para petani bersiul dan menembangkan lagu bila musim panen tiba. Doakan padi-padi mereka kemuning dan merunduk.


Photo by: Mifta Sholikatin - Peserta STIP Travelxism - Universitas Jember

Hembusan angin menerpa, aku merasa kagum dan tersenyum melihat bangunan candi telah nampak dari kejauhan. Barisan awan di atas langit meneduhkan stupa candi yang telah berumur. Ketika aku semakin mendekat, candi ini kokoh berdiri di antara puing-puing atau sisa-sisa dari peninggalan candi. Sekali lagi aku takjub.


Candi ini seperti kehidupan kalian. Memikat nan menawan tapi status hubungan masih single. Bila kita memutar waktu jauh ke belakang, situs Candi Banyunibo banyak dikelilingi bangunan-bangunan namun runtuh oleh pertukaran zaman. Bisa jadi banyak orang-orang yang interest sama kamu tapi kurang peka lalu satu-persatu pergi dan lenyap bersama waktu. Cantik doang peka kagak!


Candi Banyunibo adalah Candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian sebelah timur dari Kota Yogyakarta ke arah Kota Wonosari. Sekitar 5,6 KM ke arah selatan dari Candi Prambanan dan secara administratif terletak di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Menurut beberapa sumber, candi ini dibangun sekitar abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.


Bila kamu explore lebih jauh, candi ini seperti bercerita tentang masa kejayaannya dahulu melalui ukiran-ukiran di dindingnya. Ukiran-ukiran atau relief pada candi bisa berupa doa, pengharapan, dan penghormatan terhadap kehidupan sosial, religi dan budaya masyarakat dahulu yang tinggal di sekitaran Candi.


Risa Heradhita Putri dalam tulisannya berjudul “Setetes Air di Tanah Gersang” menceritakan, dahulu sekelompok masyarakat yang tinggal di kawasan gersang yang kini menjadi Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Tanah mereka dikelilingi perbukitan karst. Bila musim kemarau tiba, angin menjadi lebih kering dari biasanya. Di area sekitar Candi Banyunibo tak ada mata air. Padahal mereka hidup bercocok tanam.


Masyarakat dimasa lalu juga tidak lepas atas kepercayaan kepada sang Maha Agung sehingga mengandalkan rumah peribadatan yang saat ini dikenal sebagai Candi Banyunibo. Mereka juga memberikan nama banyunibo karena tersirat sebuah makna beserta harapan yang sangat mendalam kepada tanah tempat mereka berpijak. Dalam bahasa Jawa, banyu memiliki arti sebagai air dan nibo adalah jatuh atau menetes.


Keberadaan Candi Banyunibo merepresentasikan doa atas kesuburan tanah dan kesejahteraan khususnya untuk para petani yang sangat bergantung dengan hasil panen di masa lalu. Ketika kamu sebelum masuk candi, Sang Dewi Hariti seakan-akan menyambut kedatangan para pengunjung. Dalam kepercayaan Buddha dan masyarakat lokal yakni Jawa kuno, Dewi Hariti adalah sosok wanita raksasa atau yaksi yang dulunya sangat suka memangsa anak-anak namun setelah mendapatkan secercah cahaya dari Sang Buddha, Dewi Hariti berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sosok yang penuh atas cinta kasih dan menjadi pelindung bagi anak-anak.


“…..Dewi Hariti adalah dewi kesuburan, kesejahteraan, dan sumber rezeki, beliau punya banyak anak ada ratusan. Banyak anak adalah simbol kelimpahan rejeki yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa” ucap Pak Eko selaku Kepala dukuh di Desa Bokoharjo.


Dewi Hariti tidak sendiri memberi pengharapan dan kesejahteraan atas kesuburan lahan pertanian di Desa Bokoharjo ternyata ditemani oleh Sang Dewa Kuvera yang reliefnya terletak disebelah selatan lorong pintu masuk candi. Dewa Kuvera sendiri dalam kepercayaan Buddha adalah sosok Dewa yang memberikan kemakmuran.


Ketika kamu memasuki ke dalam Candi Banyunibo maka seolah-olah Dewi Hariti dan Dewa Kuvera telah memberkati dan mendoakan atas kelimpahan rezeki dalam kehidupan, kemakmuran, cinta kasih, dan menjaga anak-anak agar terhindar dari hal-hal yang buruk. Selain itu, bila kamu perhatikan di setiap dinding bagian luar candi terdapat ukiran suluran yang memiliki arti akar yang menjalar dari sebuah cabang tumbuhan. Makna dari relief suluran adalah proses roda dari kehidupan yang muda akan menjadi tua serta harapan akan kesuburan.


Dapat dipastikan letak relief Dewi Hariti dan Dewa Kuvera di pintu masuk memiliki alasan dan pemaknaan. Bila candi Hindu dibangun sebagai makam, maka untuk candi Buddha adalah tempat untuk melakukan peribadatan atau tempat berdoa kepada Sang Maha Agung. Jadi, pemeluk kepercayaan Buddha di masa lalu mengukir relief tersebut di lorong pintu masuk adalah agar masyarakat yang melakukan doa maupun ibadah selalu diberkati serta diterima. Singkatnya, kedua relief tersebut menerima seluruh niat kebaikan sebelum diucapkan lewat peribadatan dan doa di dalam candi.


Pengalaman aku saat memasuki ke dalam candi hanya terdapat ruang-ruang kosong namun terasa sejuk di dalamnya. Candi ini seperti berusaha memberi tahu keberadaannya di tahun 1932 dalam keadaan runtuh. Bebatuannya sebagian lepas, berserakan, dan tertimbun oleh tanah. Bahkan tak ada arca pada relungnya-relungnya. Pemugaran dilakukan sebanyak dua kali dan selesai di tahun 1978.


Candi Banyunibo kembali bangkit di antara hamparan sawah di Desa Bokoharjo yang menyampaikan kepada orang-orang bahwa sebuah doa, harapan, cinta, kasih sayang, dan anak-anak adalah kunci utama untuk mendapatkan kesejahteraan serta kemakmuran di dalam kehidupan.


Buat kamu yang ingin berkomunikasi dan membaca surat-surat dari candi Banyunibo melalui ukiran-ukiran yang menghiasi candi, Dewi Hariti dan Dewa Kuvera akan selalu menyambutmu dengan berbagai pengharapan. Pergi bersama sang kekasih lebih disarankan. UPS !


“…Sleman selalu memberi kejutan di punggung tanahnya melalui jejak-jejak peninggalan yang ia berikan”


/Muh. Fernanda - Peserta STIP Travelxism - Universitas Hasanuddin/


86 views0 comments