• Travelxism

Menjadi Andalan Kemenparekraf, Berikut Fakta-Fakta Wisata Inklusif yang Wajib Kamu Ketahui!

Updated: Apr 20

Merasa nyaman di destinasi wisata menjadi hak semua orang. Bukankah begitu, Travelovers? Sayangnya, kenyamanan berwisata seringkali tidak didapatkan oleh kawan-kawan difabel, lho. Tau nggak kenapa? Karena kurangnya fasilitas penunjang maupun aksesibilitas yang minim bagi kawan-kawan difabel ketika berwisata.

Host Virtual Tour DifaTravelX di Embung Kaliaji

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Melansir bisniswisata.co.id, di tahun 2019 Ketua Umum Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Gufroni Sakaril, menuturkan bahwa pariwisata Indonesia belum ramah difabel karena tidak menyediakan akses maupun fasilitas bagi penyandang disabilitas. Hal ini disampaikan Gufroni saat Dialog Publik “Mewujudkan Komunitas ASEAN yang inklusif 2025”.

Sementara itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di tahun 2021 menggencarkan kembali wisata inklusif atau wisata ramah difabel. Melansir dari surabaya.liputan6.com, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mendorong pembangunan infrastruktur pariwisata yang ramah disabilitas. Beliau juga menuturkan bahwa teman-teman disabilitas harus menjadi bagian dari pariwisata sehingga atraksinya juga harus inklusif.

Meskipun begitu, Travelovers sadar nggak, sih. Belum semua destinasi wisata di Indonesia menerapkan prinsip wisata inklusif. Masih banyak destinasi wisata di Indonesia yang kurang memperhatikan aksesibilitas dan fasilitas penunjang yang ramah bagi difabel. Secara gak langsung ini menjadi PR kita bersama nih Travelovers agar di masa depan lebih banyak lagi yang menerapkan wisata inklusif di Indonesia.

Anyway, biar makin paham tentang wisata inklusif, mimin mau spill fakta-fakta mengenai wisata inklusif yang wajib Travelovers tau. Baca sampai akhir ya, Travelovers!


1. Wisata Inklusif, Wujud Hak Berpariwisata bagi Siapa Saja

Melalui wisata inklusif artinya pariwisata terbuka bagi siapa pun, termasuk penyandang disabilitas. Tak sekedar menyiapkan akses dan fasilitas ramah difabel saja, tetapi wisata inklusif juga memastikan bahwa fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik. Konsep wisata inklusif juga membuka kesempatan luas bagi penyandang disabilitas untuk turut menjadi pelaku pariwisata. Hal ini sejalan dengan program Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, yang menargetkan 1-2% penyandang disabilitas diberikan lapangan pekerjaan berkualitas dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.


2. Menjunjung Sustainable Tourism

Melansir telusuri.id, konsep pariwisata inklusif juga mendukung masyarakat lokal untuk berkembang. Dukungan ini melalui pemberian kesempatan dan akses memulai usaha pariwisata. Pelaku wisata pun tidak hanya berfokus pada pemilik modal saja. Hal ini sejalan dengan konsep sustainable tourism yang berkomitmen untuk menjaga lingkungan serta mendukung masyarakat lokal dengan tetap meningkatkan aspek ekonomi.

Dengan demikian, pariwisata bukan hanya bisa dinikmati oleh orang kaya dan memarjinalisasi orang-orang yang tidak memiliki akses. Semua pelaku wisata memiliki hak yang sama untuk mendapat keuntungan serta pengalaman dari pariwisata.


3. Memiliki Payung Hukum Resmi

Konsep wisata inklusif bukan cuma teori semata lho, Travelovers. Sebagai upaya pemenuhan hak (salah satunya hak berwisata) bagi teman-teman disabilitas, terdapat berbagai peraturan hukum untuk mewujudkan wisata inklusif. Salah satunya, yang terbaru, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2020 tentang Aksesibilitas terhadap Permukiman, Layanan Publik, dan Perlindungan dari Bencana bagi Penyandang Disabilitas. Selain itu, juga terdapat UU No.8 Tahun 2018 tentang Disabilitas. Pada bagian ke-12 UU tersebut menegaskan adanya hak kebudayaan dan pariwisata bagi penyandang disabilitas. Oleh karena itu, sudah seharusnya wisata inklusif yang ramah difabel menjadi konsep pokok yang diterapkan pada pariwisata di seluruh Indonesia.


4. Konsep Universal Design pada Wisata Inklusif

Melansir www.solopos.com, salah satu hal penting yang bisa mewujudkan destinasi wisata inklusif adalah konsep universal design. Konsep ini ditujukan bagi semua orang tanpa memandang perbedaan. Adanya universal design mampu menjawab kebutuhan difabel, kalangan lanjut usia, anak-anak, dan semuanya. Tentu termasuk juga untuk kebutuhan nondifabel.

Terdapat tujuh prinsip untuk menerapkan universal design ini lho, Travelovers. Apa aja tuh min? Pertama, kesetaraan penggunaan. Kedua, desain bangunan fleksibel sehingga dapat digunakan semua orang dengan kebutuhan dan kemampuan berbeda. Ketiga, simpel dan sesuai kebutuhan. Keempat, informatif dan mudah dimengerti. Kelima, antisipatif terhadap kesalahan pemakaian. Keenam, tidak memerlukan usaha terlalu besar. Ketujuh, mempunyai pendekatan pada kebutuhan ukuran dan ruang.


Nah, sekarang Travelovers udah tau kan fakta-fakta di balik wisata inklusif. Udah makin paham tentang wisata inklusif belum, nih? Oh iya, salah satu wisata inklusif yang bisa kamu ikuti yaitu di Virtual Tour dan Experience DifaTravelX, lho. Project ini secara khusus didanai oleh Pemerintah Australia melalui Australia Awards di Indonesia. Jadi, dipastikan no kaleng-kaleng ya. Jangan lupa daftar! Mimin tunggu kehadiran Travelovers. See you!


Sumber:

Bisniswisata. Pariwisata Indonesia Belum Ramah bagi Kaum Difabel. (2019). https://bisniswisata.co.id/pariwisata-indonesia-belum-ramah-bagi-kaum-difabel/


Liputan6.com. (2021, April 6). Pariwisata Inklusif Sandiaga untuk Disabilitas, Seperti Apa? Liputan6.com; Liputan6. https://surabaya.liputan6.com/read/4524486/pariwisata-inklusif-sandiaga-untuk-disabilitas-seperti-apa


Timoti Tirta. (2019, July 30). Pariwisata Inklusif versus Eksklusif, Menang Siapa? TelusuRI. https://telusuri.id/pariwisata-inklusif-versus-eksklusif/


Mulyanto Utomo. (2020). Destinasi Wisata Inklusif untuk Semua. Solopos.com; Solopos.com. https://www.solopos.com/destinasi-wisata-inklusif-untuk-semua-1098084


/Safiratul Khodijah – Peserta STIP Travelxism Batch 2 – Universitas Negeri Yogyakarta/

46 views0 comments