Peran Generasi Muda dalam Pemberdayaan Responsif Gender di Sektor Pariwisata Indonesia



Women in Tourism Indonesia kembali menggelar webinar reguler bertajuk WTIDtalk. Webinar edisi ke-6 ini mengangkat topik spesifik yakni “Peran Generasi Muda dalam Pemberdayaan Responsif Gender di Sektor Pariwisata Indonesia”.


Acara dibuka dengan opening speech dari Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo yang pada kesempatan ini menyoroti pentingnya peran perempuan dalam sektor pariwisata. Angela berharap kedepannya apresiasi yang diberikan pada perempuan di sektor pariwisata bukan hanya dari segi kuantitas saja, namun juga kualitas, yakni melalui pemberian upah yang adil, kesempatan yang sama untuk memiliki tanggung jawab yang lebih, menempati posisi yang lebih, serta kesempatan untuk bisa berkontribusi sebagai pemilik usaha maupun penentu kebijakan.


Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo

“Hampir setengah populasi Indonesia adalah perempuan, jadi perlu keterwakilan suara perempuan yang berpihak terhadap kesejahteraan perempuan termasuk di sektor pariwisata dan mewujudkan kesetaraan gender di sektor pariwisata. Ini merupakan kerja kolektif yang memerlukan dukungan dari seluruh stakeholders” ujar Angela.



Webinar ini turut mengundang 3 pembicara yang memiliki latar belakang inisiator pemberdayaan responsif gender pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dari berbagai daerah di Indonesia.

Pemaparan Materi oleh Ni Made Gandhi Sanjiwani

Pembicara pertama WTIDtalk#6 adalah Ni Made Gandhi Sanjiwani yang merupakan Chief Business Officer Go Destination Village (GoDevi) sekaligus Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Sayan, Ubud. Gandhi membagikan pengalamannya dalam membentuk start up dan memberdayakan pokdarwis di Bali.


Menurut Gandhi, pemberdayaan merupakan langkah strategis agar program yang dijalankan masyarakat desa lebih berkelanjutan. Untuk itu memberdayakan bukan hanya sebatas modal ekonomi, melainkan yang terutama adalah pemberdayaan sosial yang dapat memberi spirit dan dorongan agar masyarakat desa dapat mengkomunikasikan dan mengembangkan desa wisatanya.


Pemaparan Materi Oleh Sarah Sentoso

Dua pembicara lain dalam WTIDtalk kali ini yaitu Sarah Sentoso dan I Gusti Ngurah Paulus, memiliki kesamaan latar belakang yakni pemberdayaan perempuan dalam bidang ekonomi kreatif. Sarah merupakan director Kain Makna , platform yang fokus mempromosikan kain tenun buatan mama-mama di NTT pada panggung internasional. Sementara Paul, ia merupakan inisiator Silaq, project social enterprise yang berfokus pada pemberdayaan perempuan di desa Lilir, Lombok, NTT, dalam memproduksi eco-product menggunakan bahan baku lokal .


Pemaparan Materi oleh I Gusti Ngurah Paulus

Kaitannya dengan pemberdayaan, Sarah dan Paul menyoroti bahwa hal tersebut dapat dimulai dengan mengamati permasalahan yang ada di sekitar kita atau komunitas terdekat, tujuannya adalah agar project pemberdayaan yang ditawarkan nantinya adalah solusi dari permasalahan yang ada.


“Kita tidak bisa berangkat dari membawa solusi ke masyarakat, jadi kita harus memulai dari human centered approach namanya, di mana kita melihat apa sih yang dibutuhkan masyarakat dan apa yang ada di sana” ujar Paul.


Paul juga menceritakan planning gender mainstreaming yang ia lakukan saat mengembangkan Silaq. Menurutnya, untuk mencapai kesetaraan gender dalam project, pada pelaksanaanya tidak bisa hanya melibatkan pihak perempuan, laki-laki perlu edukasi dan dilibatkan sebagai key player project sehingga tercipta suatu sinergi. /Tasya Safitri - Peserta STIP Travelxism Batch1/

58 views0 comments

Recent Posts

See All