Potensi Hutan Wisata untuk Sustainable Tourism di Yogyakarta


Photo by: Sandra Alfiani

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi yang terletak dibagian selatan Pulau Jawa dengan segudang label seperti kota gudeg, kota perjuangan, kota pelajar, kota budaya dan lain sebagainya. Keunikan diberbagai sudut menjadi ciri kota dan menjadi potensi pariwisata Yogyakarta. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang ada di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata, di mana potensi tersebut menjadi salah satu sektor yang memberi sumbangsih dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah.


Kota yang menghadirkan kenyamanan, keamanan, dan keramahtamahan warganya menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Tidak mengejutkan jika jumlah wisatawan domestik ataupun mancanegara yang berkunjung di kota ini setiap tahunnya mengalami peningkatan selaras dengan semakin beragamnya objek wisata yang ada.


Menurut Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo mengatakan “Tujuan wisata yang menjadi pilihan wisatawan lebih memilih mengunjungi tempat wisata alam” kata Singgih dilansir dari kompas.com (8/9).


Photo by: Sandra Alfiani

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa objek wisata yang banyak diminati wisatawan merupakan objek wisata yang menerapkan konsep sapta pesona. Melihat hal tersebut perlu adanya upaya optimalisasi potensi wisata yang ada untuk menunjang terciptanya destinasi wisata yang semakin beragam salah satunya dengan optimalisasi potensi hutan. Potensi hutan yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta seluas 19.035,09 ha. Kondisi geografis yang demikian akan memberikan manfaat yang signifikan apabila dapat dikelola secara maksimal.


Salah satu pemanfaatan hutan sebagai tempat wisata yang sudah mulai dilirik oleh Yogyakarta adalah dengan menjadikannya lokasi berkemah (camping atau glamping) dan outbound center. Gagasan tersebut akan memiliki daya tarik tersendiri sebagai tujuan wisata bagi khalayak yang setiap hari sibuk di ruang sempit gedung-gedung pencakar langit.



Pemanfaatan hutan sebagai tempat wisata akan mengarah pada prinsip sustainable tourism apabila kemudian bisa dikelola serupa desa wisata, yang menggandeng masyarakat sekitar sebagai pengelolanya (community based tourism). Kehadiran desa wisata menjadi alternatif dalam pengembangan pengelolaan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta dalam menciptakan atraksi wisata baru dan menyempurnakan potensi yang ada. Melalui alternatif ini menjadi harmonis dengan rencana aksi untuk menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai sarana untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa dan tentunya untuk memperkenalkan budaya setempat. Salah satu upaya yang digagas yaitu dengan menghadirkan tour package dengan mengusung tema memorable Yogyakarta. Melalui paket ini diharapkan mampu menghadirkan ragam experience adventure dan juga pertunjukan seni daerah yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan pengemasan yang menarik diharapkan mampu meduduki pangsa pasar paket wisata yang memiliki daya pikat tersendiri bagi wisatawan, yang mana dari paket ini juga menjelma sebagai ajang promosi paket wisata unik yang dapat dihadirkan ketika berlibur ke Yogyakarta.


Photo by: Sandra Alfiani

Terlepas dari fokus pengembangan tujuan wisata yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta terutama dalam pengoptimalan kawasan hutan, dalam pelaksanaanya juga harus memperhatikan kaidah-kaidah yang ada. Hal tersebut penting agar trobosan yang dijalankan tidak menimbulkan dampak negatif bagi kawasan setempat. Berdasar pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.13/Menlhk/Setjen/Kum.1/5/2020 tentang Pembangunan Sarana Dan Prasarana Wisata Alam Di Kawasan Hutan Pada Pasal 1 ayat 1 yaitu Wisata Alam di Kawasan Hutan adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati gejala keunikan dan keindahan alam di kawasan hutan.


Melalui peraturan tersebut terlihat jelas bahwa pemanfaatan hutan sebagai objek wisata tidak serta merta melakukan alih fungsi lahan sebagai daerah resapan air. Disisi lain juga perlu adanya sinergi antara perhutani dan pihak pengelola desa wisata dalam memaksimalkan potensi alam yang ada sehingga mampu menghasilkan warisan yang berdaya guna. Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong terjaganya kondisi alam dan terjaganya keasrian kondisi sekitar sehingga mampu menghadirkan tujuan wisata glamour camping (glamping) yang memikat. Selain itu upaya tersebut juga dilakukan sebagai bentuk antisipasi terjadinya longsor karena kawasan hutan menjadi gundul.


Upaya pengembangan hutan menjadi area wisata yang dikelola masyarakat memang bukan perkara mudah. Perlu adanya pelibatan penduduk setempat yang terkadang belum memiliki kesadaran akan wisata. Oleh sebab itu perlu adanya sinergi pentahelix yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media yang berkolaborasi serta berkomitmen dalam mengedepankan kearifan lokal dan sumber daya lokal.


Unsur pertama adalah pemerintahan bertugas dalam merumuskan kebijakan melalui keputusan yang membantu masyarakat. Salah satunya dengan memberikan pendanaan secara khusus kepada masyarakat setempat dalam merealisasikan glamour camping (glamping) yang berkonsep sustainable tourism pada daerah yang mendukung. Unsur kedua yaitu masyarakat atau komunitas memiliki peran dalam ikut aktif terlibat dalam keputusan yang telah diambil oleh pemerintah. Ketika pemerintah sudah memfasilitasi masyarakat, maka masyarakat perlu untuk melakukan aksi dengan menyusun dan mengembangkan konsep destinasi wisata baru yang memiliki pangsa pasar bagi khalayak luas, salah satunya dengan ikut berkontribusi nyata dalam pengembangan dan mengelolanya.


Photo by: Sandra Alfiani

Unsur ketiga adalah akademisi memiliki peran dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dalam mewujudkan hidup yang mudah, cepat dan bermanfaat. Disini peran mahasiswa diperlukan. Mahasiswa menjadi agent of change dalam berkontribusi membuat terobosan nyata yang mampu meningkatkan citra positif destinasi yang sedang diusung dikancah nasional atau bahkan internasional.


Unsur yang keempat adalah badan atau pelaku usaha yang berperan dalam mewujudkan terciptanya ekonomi yang berbasis pancasila sehingga keadilan dan kesejahteraan dapat dirasakan. Peran investor disini diperlukan dalam mensupplay kebutuhan yang tak terduga serta diperlukan lebih dalam pendaanaan untuk menciptakan destinasi yang memberikan segala kemudahan bagi wisatawan dengan menghadirkan amenitas, aksesibilitas yang mampu menunjang segala kebutuhan wisatawan. Faktor ini di sisi yang berbeda merupakan kunci dari keberlangsungan wisatawan dalam menikmati pengalaman berwisata yang luar biasa bagi wisatawan.


Unsur yang kelima adalah media, media memiliki peran dalam mensukseskan kegiatan dan aktivitas masyarakat, dengan memberikan berita-berita yang informatif serta hal-hal yang positif. Pelaku media di sini berfungsi sebagai seorang humas dengan penerapan marketing mix dan melalui periklanan di new media, hal tersebut diharapkan mampu menjadi media promosi efektif dan mendorong peningkatan dampak positif bagi kegiatan pariwisata yang digagas. Dengan adanya kerjasama dari kelima unsur tersebut maka akan mampu menjadikan potensi pariwisata berkembang menuju pariwisata berkelanjutan. – /Opini Mahasiswa – Sandra Alfiani – Peserta STIP Travelxism Batch 1/

54 views0 comments