Sadako, Kisah Di Balik 1000 Burung Bangau Kertas.

Sadako, mendengar namanya aja pasti udah bikin merinding ya Travelovers. Eitsss tapi jangan takut dulu, kali ini Tim Travelxism bukan mau bahas soal Sadako yang itu kok. Namanya memang mirip, tapi Sadako yang ini punya kisah yang mengharukan dan inspiratif yang mungkin belum banyak didengar sama Travelovers semua, so, langsung aja yuk kita simak ceritanya!



Namanya adalah Sadako Sasaki. Ia merupakan salah satu warga Hiroshima yang selamat ketika bom atom dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada tanggal 6 Agustus 1945 pukul 08.15 di Kota Hiroshima. Sadako lahir pada tanggal 7 Januari 1943, pada saat itu ia yang masih berusia dua tahun, bersama dengan keluarganya, berhasil menyelamatkan diri dari keganasan “little boy” yang membumihanguskan Hiroshima dan menewaskan sekitar 140 ribu orang.


Sadako meski dikabarkan tidak mengalami luka bakar sekalipun, namun ia dan keluarganya harus menerima kenyataan bahwa rumahnya yang hanya berjarak dua kilometer dari titik dijatuhkannya bom atom, habis terbakar dalam peristiwa mengerikan itu. Sadako, keluarganya dan orang-orang yang berhasil selamat dari peristiwa tersebut pun akhirnya harus berjuang untuk memulai kehidupan baru mereka pasca perang dunia kedua itu berakhir.




Sadako tumbuh menjadi gadis yang tidak hanya sehat namun juga berprestasi dalam bidang atletik di sekolahnya, ia bahkan punya impian menjadi seorang guru pendidikan jasmani. Namun sayangnya, kesehatan, impian dan keceriaan Sadako tidak bisa terus berlanjut, karena menjelang akhir November 1954, Sadako mengalami flu, kemudian muncul benjolan di belakang telinga dan beberapa bulan kemudian timbul bintik-bintik ungu dikaki kirinya.


Setelah gejala-gejala tersebut tak kunjung reda, ia pun memeriksakan diri, dan ternyata dokter mendiagnosis bahwa Sadako terkena leukimia sebagai dampak dari bom atom (orang-orang bahkan menyebut penyakit itu sebagai penyakit bom atom). Ia juga diprediksi tidak akan memiliki banyak waktu lagi oleh dokter.



Tanggal 21 Februari 1955, Sadako mulai masuk rumah sakit, tepatnya di Rumah Sakit Palang Merah Hiroshima. Sadako sangat ketakutan dan sering menangis karena tahu bahwa hampir semua orang yang terserang leukimia tidak akan sembuh atau berakhir dengan meninggal dunia.


Sadako yang terus sedih, membuat temannya yang bernama Chizuko Hamamoto tidak tega melihatnya. Chizuko pun datang dan menjenguk Sadako. Ia membawa origami atau kertas lipat dan memberitahu Sadako bahwa jika seseorang dapat membuat 1000 burung bangau dari origami, maka segala permintaannya akan terkabul. Sadako pun sangat termotivasi, ia berusaha dengan sangat keras untuk membuat 1000 burung bangau dari origami, dengan harapan keinginannya untuk sembuh bisa terkabul.


Namun sayangnya, baru 644 bangau yang Sadako buat, ia harus mengakhiri impiannya untuk sembuh. Sadako meninggal dunia diusia 12 tahun pada tanggal 25 Oktober 1955. Kesedihan dirasakan oleh seluruh keluarga juga teman-teman Sadako. Teman-teman Sadako pun tergugah untuk membangun sebuah monumen penghormatan bagi perjuangan dan impian Sadako. Informasi tersebut tersebar dan mengundang 3100 siswa dari sembilan negara untuk ikut dalam gerakan perdamaian anak-anak dan penggalangan dana.


Akhirnya tiga tahun setelah wafatnya Sadako, tepatnya pada tanggal 5 mei 1958 di Taman Perdamaian Hiroshima dekat dengan titik dijatuhkannya bom atom, dibangunlah sebuah monumen penghormatan untuk Sadako yang saat ini dikenal sebagai Monumen Perdamaian Anak-anak.



Di monumen yang merupakan lambang bagi optimisme tersebut, pada musim panas, biasanya anak-anak sekolah di Jepang akan datang untuk membuat origami bangau sebagai wujud penghormatan bagi Sadako yang tidak berhasil menyelesaikan 1000 burung bangaunya. Origami tersebut kemudian diletakkan dalam etalase-etalase yang ada, sehingga orang-orang dapat melihatnya.


Wahhh merinding dan mengharukan banget ceritanya ya Travelovers!


Pada tanggal 10 Januari 2021 yang lalu, Tim Travelxim berkesempatan untuk mengadakan Virtual Tour ke Hiroshima Jepang lho. Salah satu yang menjadi destinasi utamanya adalah Taman Perdamaian Hiroshima, di sana Tim Travelxism dan juga puluhan peserta yang hadir bisa melihat secara langsung bagaimana bentuk monumen peringatan untuk Sadako dan juga mengetahui sejarah bom atom Hiroshima yang sangat menyedihkan.



Okeee Travelovers! Sekian deh cerita yang bisa Tim Travelxism bagikan. Menarik banget ya cerita Sadako Sasaki ini, semoga semangat dan optimisme Sadako juga boleh selalu ada buat Travelovers semuanya!/LISA/


Referensi:

Paparan Materi Ahli Sejarah Meta S. P. Astuti, Ph.D dalam Virtual Tour yang di selenggarakan Travelxism pada Minggu 10 Januari 2021

Yuniati, Ratna. 2011. The Sadako Sasaki Story. Diakses pada tanggal 20 Januari 2021 dalam https://staff.blog.ui.ac.id/ratna/2011/07/29/the-sadako-sasaki-story/

Mappapa, Pasti Liberti. 2020. Kisah Nyata Sadako, Gadis Jepang Melawan Ganasnya Efek Bom Atom. Diakses pada tanggal 20 Januari 2020 dalam https://news.detik.com/berita/d-4849851/kisah-nyata-sadako-gadis-jepang-melawan-ganasnya-efek-bom-atom/2


*Travelxism adalah sebuah startup yang mendukung pariwisata berkelanjutan melalui consultant services berupa penyelenggaraan pelatihan, workshop, produksi media promosi (cetak dan digital), sustainable tour package, dan virtual tour*