• Travelxism

Tak Hanya Wisata Alam, Wisata Religi dan Kuliner Juga Ada dalam Project DifaTravelX

Merhaba, Travelovers! Udah tahu kan, kalau Travelxism dan Difabike berkolaborasi menawarkan sensasi baru berwisata melalui DifaTravelX? Dalam project itu terdapat dua program yang menjadi andalannya, nih, yaitu Virtual Tour dan Virtual Experience. Adanya kolaborasi tersebut merupakan salah satu solusi bagi masalah pariwisata di masa pandemi. Dimana adanya pembatasan jumlah wisatawan dan rasa takut terhadap penularan Covid-19 mendorong munculnya project ini.

“Pelaksanaanya kapan, Min?” Sabar bestieee, Mimin bakal kasih tahu, kok. Program Virtual Tour dan Virtual Experience akan dilaksanakan pada tanggal 21 dan 28 Mei 2022. Jadi, buat kamu yang ingin merasakan pengalaman baru berwisata tanpa ‘capek’ dan ‘minim biaya’ (only 25K for 5 destination/day) bisa banget untuk ikutan acara ini! Selain menyajikan destinasi wisata yang seru dan menarik, DifaTravelX juga menerapkan prinsip wisata inklusif, lho, Travelovers.

“Destinasi wisatanya mana aja, Min?” Emmm, mana aja, ya? Daripada penasaran, mari kita lihat pesona berbagai destinasi wisata tersebut di bawah ini.


1. Desa Wisata Ledok Sambi

Pemandangan di Area Ledok Sambi

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Ingin merasakan perjalanan wisata yang menyejukkan? Ledok Sambi bisa memenuhi keinginanmu! Ledok Sambi merupakan salah satu lokasi wisata yang menawarkan nuansa pedesaan untuk para pengunjungnya. Suara aliran sungai, hamparan sawah hijau yang membentang, hingga pemandangan Gunung Merapi nan megah memberikan suasana yang menenangkan bagi wisatawan.

Di sini kamu bisa melakukan banyak aktivitas, mulai dari kegiatan outbound, wisata budaya, atau hanya sekadar berekreasi. Travelovers juga bisa bermalam di Ledok Sambi, lho! Kamu bisa menikmati malam di sini dengan memilih paket kegiatan berkemah atau memilih untuk tinggal di homestay, villa atau wisma yang ada. Oh iya, Ledok Sambi ini beralamat di Jalan Kaliurang KM. 19.2, Area Sawah, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia, 55582.


2. Malioboro - Titik 0 KM

Suasana Jalan Malioboro

Sumber: Dokumentasi Travelxism

Siapa sih, yang nggak tahu Malioboro? Banyak orang telah mengetahui tentang tempat iconic sekaligus ‘jantung’ Kota Yogyakarta ini. Di Malioboro, kamu bisa menemukan banyak tempat wisata. Mulai dari wisata edukasi dan sejarah, seperti: Taman Pintar, Benteng Vredeburg, dan Museum Sonobudoyo. Disamping itu, kamu juga bisa menemukan tempat-tempat untuk berburu cenderamata dan barang kerajinan, seperti: Pasar Beringharjo, Hamzah Batik, ataupun Teras Malioboro. Tips dari Mimin untuk Travelovers yang ingin berbelanja di sekitar Malioboro, usahakan kamu bisa menawar, ya! Hal itu perlu dilakukan demi kesejahteraan keuangan kamu, nih, hahaha.

Perut keroncongan setelah jalan-jalan? Jangan khawatir, di sini ada banyak pedagang makanan dan minuman yang siap mengisi perut Travelovers setelah lelah berkeliling. Untuk kenang-kenangan, kamu juga bisa, nih, bersua foto di sekitar titik 0 KM. Selain itu, bagi kamu yang ingin merasakan suasana malam di Yogyakarta, bisa banget dateng kesini di malam hari. Eitsss, tenang aja. Di sini kalau semakin malam malah semakin ramai kok, xixixi. Tapi harus tetap waspada, ya, Travelovers!


3. Embung Kaliaji

Embung Kaliaji (Kiri) dan Kebun Salak Pondoh (Kanan)

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Selain Ledok Sambi yang menawarkan suasana alam untuk wisatawan, di lereng Gunung Merapi juga terdapat wisata Embung Kaliaji yang tak kalah asri. Embung ini berada di Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman. Embung Kaliaji dibuat di atas rawa dengan kandungan air tinggi, yang membuatnya tidak dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Tujuan embung ini diciptakan adalah untuk keperluan irigasi bagi ladang salak warga sekitar. Akan tetapi, karena pemandangan alamnya yang indah, maka Embung Kaliaji disasar menjadi salah satu alternatif tempat berwisata.

Di sini kamu bisa melepas penat dari keseharian yang menyibukkan dan melepas stres atas beban kerja yang dirasakan. Aktivitas yang bisa dilakukan, antara lain : kuliner, bersepeda mengelilingi embung, dan bersua foto dengan latar Gunung Merapi. Selain itu, kamu juga bisa, lho, merasakan sensasi memanen salak langsung dari kebunnya. So, tunggu apalagi? Yuk, daftar project DifaTravelX dan ikuti keseruan host-nya!


4. Tunggak Semi, Desa Malangan

Masyarakat sedang Mengolah Bambu untuk Dijadikan Kerajinan

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Desa Wisata Bambu Malangan terletak di Dusun Malangan, Desa Sumberagung, Ke­camatan Moyudan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesuai dengan namanya, produk yang menjadi ciri khas dari Desa Wisata Malangan ini adalah kerajinan bambunya. Produk yang dibuat adalah berbagai peralatan rumah tangga, seperti: tenggok, besek, tampah, tambir, erok-erok, kreneng, kalo, irik, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, warga Malangan juga selalu berusaha untuk memenuhi permintaan bermacam-macam desain anyaman bambu dari konsumennya. Mulai dari yang berbentuk sederhana, hingga desain dengan bentuk kotak, lingkaran, ataupun yang seperti guci. Hal itulah yang membuat kerajinan bambu dari Desa Malangan ini berhasil menembus pasar mancanegara. Wah, keren sekali ya, Travelovers!

Lalu, bagaimana sih, para pengrajin mengolah bambu hingga menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual tinggi? Untuk mengetahui jawabannya, ayo Travelovers ikuti project Virtual Experience DifaTravelX ini!


5. Cita Rasa Keripik Belut Godean

Pengolahan Keripik Belut

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Travelovers, pernah nggak, kamu makan keripik belut? Mungkin, sebagian orang akan merasa geli ketika mendengar kata keripik ‘belut’. Yah, seperti yang kita tahu, belut termasuk dalam kelompok ikan yang bentuknya menyerupai ular. Oleh karena itu, banyak orang yang merasa geli ketika melihatnya. Akan tetapi, siapa sangka jika keripik belut ini justru dianggap oleh banyak orang sebagai makanan yang lezat dengan cita rasa gurih dan renyah.

Di Yogyakarta, tepatnya di wilayah Godean, Sleman, terdapat sentra keripik belut. Keripik belut yang ada dijual dengan harga yang bervariasi. Keripik belut kemasan kecil hingga sedang dibanderol dengan harga Rp 30.000 per kilogram. Sedangkan, untuk keripik belut dengan kemasan besar, bisa mencapai harga Rp 140.000 per kilogram. Cocok banget ya, buat oleh-oleh sanak saudara.

Travelovers pasti penasaran kan, dengan cara pembuatan keripik belut ini? So, ikuti kegiatan Virtual Experience DifaTravelX, kuy!


6. Stasiun Tugu Yogyakarta

Suasana Stasiun Tugu dari Luar (Kiri) dan dari Dalam (Kanan)

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Naik kereta api tuttt… tuttt… tuttt… Pasti kamu tidak asing kan, dengan lagu anak-anak yang satu ini? Jika membahas mengenai kendaraan umum yang panjang dan cepat, apa yang terpikirkan oleh Travelovers? Kalau Mimin sih, langsung menjawab kereta, hahaha. Nah, ngomongin soal kereta, Yogyakarta punya beberapa stasiun aktif yang beroperasi hingga saat ini. Salah satu stasiun yang terkenal adalah Stasiun Tugu, atau biasa disebut dengan Stasiun Yogyakarta.

Stasiun Tugu Yogyakarta sudah berumur kurang lebih 135 tahun, lho, Travelovers. Stasiun ini telah beroperasi sejak 20 Juli 1887, dimana pada saat itu masih pada masa penjajahan kolonial Belanda. Wah, usianya jauh lebih tua dari Mimin, nih, sudah lebih dari 1 abad! For your information, ketika presiden Ir. Soekarno memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta, stasiun ini pernah menjadi tujuan akhir perjalanan kereta luar biasa Presiden Indonesia pertama kita tersebut. Bangunan Stasiun Tugu juga telah menjadi landmark bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai saksi bisu peristiwa sejarah Indonesia.

Menarik sekali bukan, kisah Stasiun Tugu Yogyakarta ini? Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana ‘penampakan’ dan kisah dari stasiun ini, Travelovers harus banget nih, buat ikutin Virtual Tour DifaTravelX. Gassin join lurrr! Hehehe.


7. Makam Raja-Raja Mataram Kotagede

Suasana Makam Raja-Raja Mataram Kotagede

Sumber: Dokumentasi Travelxism


Ketika mendengar nama destinasi wisata ini, yang ada di benak Mimin adalah tempat ini ‘mengerikan’. Kamu gimana? Apa yang terlintas di benak Travelovers saat membaca kata ‘makam’? Sesuai dengan namanya, destinasi wisata yang satu ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan Mataram Islam, berupa makam raja-raja terdahulu. Selain berfungsi sebagai destinasi wisata, terutama wisata religi, peninggalan ini juga berperan sebagai objek dalam penelitian sejarah. Untuk lokasinya sendiri, makam raja-raja ini berada di samping Masjid Gedhe Mataram, Kotagede.

Karena termasuk dalam wisata religi, saat mengunjungi destinasi ini pun tidak bisa sembarangan. Ada beberapa peraturan yang harus ditaati oleh para pengunjung ketika memasuki wilayah makam Raja-Raja Mataram. Peraturan itu mencakup cara berpakaian dari pengunjung, larangan memotret di dalam makam, hingga perintah untuk melepas alas kaki saat memasuki makam.


8. Makam Kyai Bagus Khasantuko

Pohon Gayam (Atas) dan Sendang Gabusan (Bawah) di Area Makam Kyai Bagus Khasantuko

Sumber: jogja.tribunnews.com


Wisata religi selanjutnya adalah Makam Kyai Raden Bagus Khasantuko. Destinasi wisata ini berada di Senuko, Sidoagung, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55264. Travelovers tahu nggak, siapa itu Raden Bagus Khasantuko? K.H.R. Bagus Khasantuko adalah seorang pangeran Putra Ndalem Sunan Amangkurat III. Beliau merupakan ulama besar yang menyebarkan agama Islam di daerah Yogyakarta bagian barat, sekaligus sebagai penasihat dari Pangeran Diponegoro.

Dalam kawasan makam ini terdapat sebuah sendang yang dinamakan Sendang Gabusan. Sendang ini memiliki air yang jernih dan diyakini oleh masyarakat dapat membersihkan diri kita dari hal-hal negatif. Uniknya, walaupun sendang tersebut sering digunakan sebagai tempat mencuci, tapi air dalam Sendang Gabusan tak pernah keruh. Selain Sendang, di area makam juga terdapat pohon gayam yang dianggap keramat.

Menarik bukan, Travelovers? Bagi kamu yang suka dengan hal-hal berbau religi, harus banget, nih, join Virtual Tour Makam Kotagede dan Makam Khasantuko ini.


9. Kuliner Kipo Khas Kotagede

Kipo Khas Kotagede

Sumber: travel.tribunnews.com


Hayooo, siapa yang siang-siang gini bawaannya pengen makan terus? Hahaha. Sejujurnya, Mimin juga laper, nih, Travelovers. Enaknya makan apa, ya? Emmm, kita beli Kipo Khas Kotagede aja, yuk! “Kipo? Kipo itu apa, Min?” Hadeh… Kipo ini adalah makanan tradisional Yogyakarta yang terbuat dari tepung ketan. Bentuknya pipih dan di dalamnya diisi parutan kelapa yang dimasak dengan gula jawa. Cara memasaknya yaitu dengan dipanggang di atas cobek gerabah beralaskan daun pisang. Tapi agar lebih mudah, kamu bisa kok memasaknya menggunakan teflon.

Kipo ini dulunya merupakan makanan yang disajikan untuk para bangsawan dan dipercaya merupakan kudapan favorit Sultan Agung. Seiring berjalannya waktu, makanan khas Kotagede ini sempat menghilang selama bertahun-tahun. Kemudian muncul kembali setelah dipopulerkan oleh Mbah Mangun Irono pada tahun 1946. Ingin tahu lebih lanjut mengenai makanan khas yang satu ini? Kuylah, tonton Virtual Tour dan Virtual Experience DifaTravelX!


10. Museum Gunungapi Merapi

Tampak depan MGM (Kiri) dan Salah Satu Spot Foto di MGM (Kanan)

Sumber: mgm.slemankab.go.id


Travelovers inget nggak, tentang letusan Gunung Merapi di tahun 2010? Waktu itu merupakan salah satu letusan Gunung Merapi yang cukup dahsyat. Dimana hal itu memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. Nah, untuk mengenang letusan-letusan Gunung Merapi, Pemerintah Provinsi DIY dan Pemerintah Kabupaten Sleman mendirikan Museum Gunungapi Merapi. Tidak hanya tentang letusan Merapi, tetapi banyak informasi lain yang disajikan di sini. Informasi yang disajikan diantaranya adalah :

  • Informasi ilmiah kegunungapian, kegempaan dan gerakan tanah;

  • Informasi fenomena gunung api terbentuk sebagai hasil proses-proses geologi;

  • Informasi mitigasi bencana gunungapi, gempa bumi, tsunami, gerakan tanah;

  • Informasi sumber daya gunung api sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat, pengembangan infrastruktur, dan lainnya;

  • Informasi aspek sosial budaya yang menyangkut kehidupan, budaya/tradisi, mitos dan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan dan keberadaan suatu gunung api.

Wah, cukup lengkap ya, informasi yang disajikan dalam Museum Gunungapi Merapi ini. Untuk tahu lebih jelasnya mengenai informasi-informasi tersebut, mari simak penjelasan host Virtual Tour dengan mendaftarkan diri dalam program DifaTravelX.


Nah, itu dia pesona sepuluh destinasi wisata dalam program Virtual Tour dan Virtual Experience dari DifaTravelX yang disponsori oleh AGS (Alumni Grant Scheme). Mana nih, destinasi yang sangat ingin Travelovers kunjungi secara langsung? Namun, sebelum mendatanginya secara langsung, bisa banget untuk kamu bergabung dalam project Virtual Tour dan Virtual Experience ini. Mimin tunggu kehadiran kamu, ya!


/Nisa Meilia Qur’ani - Peserta STIP Travelxism Batch 2 - Universitas Sebelas Maret/




15 views0 comments

Recent Posts

See All