Tradisi Perburuan Paus yang Patut dilestarikan

Indonesia merupakan negara yang memiliki sejuta kebudayaan serta tradisi unik yang masih dilakukan dan dipercaya oleh beberapa masyarakat di Indonesia. Salah satu Tradisi yang akan Tim TRAVELXISM bahas berada di Desa Lamalera, Nusa Tenggara Timur. Desa ini memiliki tradisi unik yaitu berburu Baleo atau berburu paus yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam. Tradisi ini rupanya menjadi sebuah perdebatan dunia karena banyak pandangan yang pro dan kontra akan tradisi ini. Walaupun begitu aktivitas kultural ini masih dilakukan oleh warga Desa Lamalera hingga saat ini. Tim TRAVELXISM kali ini akan mencoba untuk menjabarkan alasan mengapa tradisi ini masih patut dilestarikan,


1. Aspek Lingkungan

Tradisi berburu baleo di Lamalera bila dilihat dari aspek lingkungan, maka tradisi ini lebih ramah lingkungan. Ini dikarenakan cara penangkapan ikan paus dilakukan dengan cara tradisional dan jumlah tangkapan pun juga berbeda jauh yaitu jumlah tangkapannya tidak dilakukan besar-besaran. Jadi tidak mengeksploitasi sumber daya alam berupa ikan yang tersedia. Peralatan dalam berburu Baleopun masih tradisional yaitu menggunakan tombak tempuling yang disebut “Lama fa”, dan menggunakan perahu kayu yang disebut “Peledang”. Jadi tidak ada peralatan yang dapat merusak lingkungan.


foto: kostisolo.co.id


2. Aspek Budaya

Aktivitas menangkap paus ini telah diakui oleh internasional sebagai sebuah tradisi. Tradisi ini telah dilakukan turun-temurun, dan bagi masyarakat Lamalera paus-paus dalam tradisi ini merupakan paus-paus yang sacral karena paus-paus ini dipercaya merupakan kiriman dari nenek moyang untuk menghidupi anak-cucu mereka. Apalagi paus dalam tradisi ini sangatlah kuat kaitannya, paus biru dipercaya membawa nenek moyang warga Lamalera bisa menempati desa tersebut. Aktivitas kultural ini juga hanya diakukan bulan Mei sampai September atas dasar tradisi, atas kearifan lokal yang masih dijaga, bukan berorientasi materi.


foto: spektakel.id


3. Aspek Ekonomi

Tradisi ini bukan berorientasi materi, paus raksasa berjenis Koteklema atau yang juga dikenal sebagai paus Sperm (Physeter macrocephalus) yang diburu oleh masyarakat nantinya daging ikan paus ini tidak dimanfaatkan untuk hal-hal komersil, melainkan dibagi-bagi kepada warga dan dimanfaatkan oleh warga desa untuk menyambung hidup.


foto: tajukflores.com


Maka karena itu tradisi ini layak dipertahankan, karena tetap mementingkan aspek lingkungan, budaya, dan ekonomi untuk masyarakat. Kearifan lokal yang turun-temurun ini tidak dilakukan untuk sekedar perburuan paus karena paus yang diburu pun dipecaya sakral dan memiliki nilai yang sangat tinggi oleh warga.

Jika Travelovers ingin mengunjungi Desa Lamalera, sebuah desa kecil yang terletak di selatan Pulau Lembata, Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur, bisa melalui Pulau Lembata dari Bali atau Lombok dengan menggunakan trasportasi udara ke bandara Frans Seda, Maumere. Setelah itu dilanjutkan ke Larantuka dengan bus, dan dari Larantuka, satu-satunya transportasi untuk pergi ke Lamalera ialah dengan feri menyeberang langsung ke Lamalera, akan tetapi feri ke Lamalera hanya ada sekali dalam seminggu.


#DesaLamalera #NusaTenggaraTimur #BeburuBaleo #PerburuanIkanPaus #LamaFa #Peledang #TurunTemurun #TradisiUnik #Sakral #PulauLembata #KelilingLamalera #WisataBudaya #WisataTradisi #KampungUnik #KampungWisataUnik #KampungWisataMenarik #ObjekwisataNusaTenggaraTimur #TempatWisataFlores #PariwisataFlores #Traveling #TravelingSolo #Solotraveler #VisitIndonesia #PesonaIndonesia #WonderfulInfonesia #infowisatasolo #infowisata #infopariwisataindonesia #Traveler #Travelxism #InfoTravelxism #TravelxismDotCom

282 views