Travelxism Bekerja Membantu Masyarakat Menuju Era Digital

Updated: Apr 11, 2019


Gilang Fauzi CEO dan Founder Travelxism bersama dengan pembicara lain dalam panel terbuka Australia Eastern Indonesia Tourism Forum 2019

Pesatnya perkembangan teknologi membuat manusia mau tidak mau harus turut mengikuti perkembangan tersebut, agar tidak dicap ketinggalan jaman. Teknologi berkembang, jaman pun berubah. Keberadaan internet dengan segala kemudahan yang diberikan nyatanya sudah mempengaruhi hampir di semua lini kehidupan manusia. Cara–cara konvensional perlahan mulai ditinggalkan, dan digitalisasi di berbagai sektor mulai digalakkan.


Sejauh ini, sektor pendidikan dan ekonomi masih menjadi ladang digitalisasi yang paling menjanjikan. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya start-up atau platform pendidikan dan ekonomi. Namun, tidak berhenti sampai di situ. Potensi pariwisata yang di miliki Indonesia, sepertinya juga menjadi salah satu sektor yang mulai dilirik oleh digitalisasi.


Digitalisasi dalam sektor pariwisata sepertinya adalah sebuah keharusan. Adanya digitalisasi kemungkinan besar akan membantu keberlangsungan dari pariwisata tersebut. Namun, selain memberikan peluang, digitalisasi sektor pariwisata juga bisa menjadi tantangan bagi para developer pariwisata. Pasalnya, kemampuan sumber daya manusia yang tidak sama terkadang bisa menjadi kendala.


Permasalahan tersebut sempat dibahas dalam Australia Eastern Indonesia Tourism Forum 2019 di Makassar. Dalam forum tersebut didiskusikan terkait tantangan dalam mengembangkan destinasi pariwisata secara berkelanjutan atau sustainable tourism.


CEO dan Founder Travelxism saat menghadiri Annual Rural Development Conference

Sebagai salah satu pembicara dalam sesi panel terbuka, CEO dan Founder Travelxism, Gilang Fauzi, mengatakan bahwa salah satu tantangan utama dalam pariwisata berkelanjutan adalah sumber daya manusia. Berdasarkan pengalamannya, dia bertutur bahwa local community yang ada di lokasi wisata tersebut sering kali tidak siap dengan kedatangan wisatawan.


“Mereka tidak siap dalam beberapa hal. Seperti kemampuan bahasa, kemampuan menjadi guide, kemampuan entrepreneurship dan digital marketing. Jadi, waktu saya jalan-jalan ke destinasi wisata tujuan, seperti ada sesuatu yang hilang” ungkapnya


Berdasar pada pengalaman itulah kemudian dia merintis Travelxism, sebuah start-up yang fokus pada bidang pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Dengan tagline “Menuju Pariwisata Berkelanjutan” CEO Travelxism ini berharap Travelxism bisa menjadi jembatan antara local community dengan stakeholders, baik pemerintah atau pengusaha dalam memajukan pariwisata berkelanjutan.



“Masyarakat secara perlahan bergerak menuju perubahan digital, dan Travelxism fokus kepada digitalisasi destinasi dan mempersiapkan masyarakat lokal untuk melek digital. Travelxism bekerja membantu masyarakat menuju perubahan digital tersebut!” ungkap Gilang di Forum yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Australia di Makassar.


Sadar akan penting sustainable tourism, Travelxism berusaha memberikan solusi terbaik dengan menyediakan jasa konsultan, digitalisasi wisata, bahkan pelatihan hospitality bagi local community supaya daerah wisata tersebut bisa terus berlanjut dan berkembang. Sehingga nantinya mereka bisa mencapai kemandirian dalam menjalankan pariwisata.


Meski tergolong sebagai sebuah start-up baru, namun sudah banyak aksi nyata yang telah dilakukan oleh Travelxism terkait pembangunan pariwisata berkelanjutan. Travelxism telah membantu beberapa stakeholder pariwisata dengan memberikan pelatihan kepada local community, mengorganisir event, membuat konten media sosial dan website, dan menghadiri forum pariwisata berkelanjutan. Semua itu merupakan portofolio Travelxism untuk mempertahankan komitmen mereka dalam membangun pariwisata berkelanjutan.



#Travelxism #digitalisasi #konsultanpariwisata #digitalisasipariwisata #pariwisataberkelanjutan #sustainabletourism #infotravelxism #hospitality #localcommunity #startup #digitalmarketing #entrepreneur

0 views