• Travelxism

Tumbuhkan Rasa Percaya Diri, Aslimah Pernah Lalui Masa Paling Menguras Air Mata


Percaya diri merupakan suatu kemampuan atau keyakinan terhadap diri sendiri sehingga dapat melakukan suatu tindakan tanpa dihantui oleh rasa cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal sesuai dengan yang diinginkan, dan memiliki tanggung jawab atas segala keputusan dan tindakan yang dilakukannya. Tetapi munculnya standarisasi dari masyarakat mengenai segala sesuatu, ternyata menyebabkan kesulitan tersendiri dalam menumbuhkan rasa percaya diri. Bagi anak muda, kata yang mampu menggambarkan keadaan tersebut yaitu insecure. Istilah ini merupakan salah satu istilah dalam dunia kesehatan mental yang sering dikatakan oleh anak muda yang sering merasakan cemas mengenai suatu hal.

Meskipun permasalahan tersebut terkesan sulit diatasi, Aslimah sebagai seorang ibu dari 3 anak dan penyandang disabilitas asal Yogyakarta ternyata mampu mengalahkan rasa insecure dalam hidupnya. Ia merupakan salah satu host dari acara Virtual Tour DifaTravelX yang didanai oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme (AGS) dan diadministrasikan oleh Australia Awards in Indonesia. Dengan bergabungnya ia menjadi host di DifaTravelX, Aslimah pun mengaku bahwa kemampuannya dalam hal public speaking mengalami peningkatan yang semakin pesat. Selain itu, Aslimah juga mengaku sudah melalui proses panjang sebelum akhirnya berhasil menumbuhkan rasa percaya diri, terutama saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu ia merasa bahwa Tuhan tidak adil dalam menciptakan dirinya yang ke manapun harus menggunakan kursi roda.

“Dulu setiap kali diejek, saya berusaha untuk menikmatinya agar menumbuhkan afirmasi terhadap diri sendiri bahwa apapun yang diciptakan oleh Tuhan itu tidak akan pernah salah,” kata Aslimah. Ia mengakui bahwa dengan cara tersebut ia berusaha membuktikan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa apa yang mereka katakan mengenai kekurangan yang ada pada dirinya merupakan salah satu bentuk kasih sayang dari Tuhan.

Tak sedikit pula orang yang memandang bahwa Aslimah tidak bisa memiliki masa depan, terutama dalam hal cinta dan keluarga.

“Waktu sudah mulai dewasa, banyak orang yang memandang bahwa saya tidak memiliki masa depan dan tidak dapat berkeluarga. Tapi, saat itu saya tidak bisa langsung menyangkal perkataan tersebut. Karena setiap orang berhak memiliki suara masing-masing dan tugas saya hanya membuktikannya.”

“Saat itu saya gak bisa menyangkal karena posisinya memang saya belum memiliki pasangan. Tapi setelah saya menikah, mereka akhirnya sadar bahwa saya bisa berkeluarga.”

Aslimah juga memberikan tanggapan terkait masalah yang dihadapi oleh anak muda yaitu rasa insecure. Ia mengatakan bahwa sebetulnya anak muda belum menyadari bahwa diri mereka itu sangat berharga.

Potret Aslimah bersama Beberapa Peserta STIP Batch 2

Sumber Dokumentasi Travelxism


“Kalau misalnya kita dibilang bahwa diri kita itu jelek maka saat itu kita akan terluka. Namun, saat digantikan dengan wajah yang baru maka kita tidak akan bisa menerima dan hanya mencintai wajah yang sebelumnya.”

Dengan kata lain, segala sesuatu yang melekat pada diri kita adalah sebaik-baiknya ciptaan Tuhan yang wajib kita syukuri dan nikmati. Di tengah realitas sosial mengenai standarisasi yang dibentuk oleh masyarakat, rasanya akan sangat menyebalkan kalau kita hanya fokus dengan cibiran dari orang-orang sekitar. Sebab, waktu yang digunakan untuk mendengarkan cibiran negatif tersebut, dapat kita gunakan untuk menggali kemampuan yang ada pada diri kita. Cara seperti itu bukankah dapat membuat hidup kita lebih bermakna?

Setiap orang pasti memiliki masalah, namun bagaimana cara kita untuk tetap bahagia dalam menjalani masalah tersebut adalah hal yang terpenting. Sebab, kalau hidup tanpa masalah maka kita tidak akan pernah merasa hidup. Jadi, mari kita menikmati hidup dengan kebahagiaan kita, ” pesan Aslimah bagi para pembaca khususnya anak muda Indonesia.


/Alfiatu Rohima - Peserta STIP Travelxism Batch 2 - Universitas Ahmad Dahlan/



21 views0 comments