WTIDtalk #4, Cerita Perempuan Pegiat Wisata di Tengah Pandemi

Pariwisata adalah salah satu bidang yang menerima cukup banyak dampak negatif dari keberadaan pandemi. Dampak tersebut tanpa terkecuali juga dirasakan oleh perempuan-perempuan yang bergerak diindustri pariwisata. Namun bukannya menyerah pada keadaan, perempuan justru punya dampak yang signifikan untuk turut membendung gelombang pandemi dan mengatasi dampak sosial yang timbul (UN Women, 2021).


Kondisi tersebut mendorong salah satu Lembaga Swadaya Masyakarat Women in Tourism Indonesia bersama Roote Trails untuk mengadakan webtalkshow dengan mengundang perempuan-perempuan yang berkecimpung diindustri pariwisata untuk berbagi cerita dan pengalaman mereka “mengurus” pariwisata dimasa pandemi ini.


Diselenggarakan pada Sabtu (13/3/2021) pukul 16.00-18.00 WIB melalui aplikasi Zoom dan Youtube Live, acara bertema International WTIDtalk #4 ”Building Resilience During COVID 19: Stories of Hope and Inspirations of Women in Tourism Across The World” ini dipandu oleh Risty Nurraisa seorang Master of Management and Sustainable Tourism. Acara dibuka dengan opening speech dari Dr. Stroma Cole seorang Senior Lecturer Tourism Geography di University West of England dan Co-director of Equality in Tourism.


Acara kemudian dilanjutkan dengan sharing pengalaman, cerita dan motivasi dari empat orang wanita yang berkecimpung diindustri pariwisata dari berbagai negara. Penasaran siapa saja mereka dan bagaimana cerita singkat perjuangan mereka? Langsung kita simak yuk!


1. Alfonsa Horeng – President of Lepo Lorun Center, Women’s Weaver Cooperative (Indonesia)

Membuka cerita dengan menunjukkan tarian dan musik khas Flores juga bagaimana proses pembuatan kain tenun Flores, Alfonsa mengatakan bahwa adanya pandemi ini memberikan dampak pada semakin berkurangnya kunjungan wisatawan.


Namun bukannya menyerah dan berhenti berkaraya, pandemi ini justru dimanfaatkannya untuk semakin giat memproduksi kain tenun juga memunculkan inovasi-inovasi, seperti membuat masker hingga minuman tradisional untuk kesehatan. Alfonsa dan komunitasnya juga semakin giat untuk membangun jaringan dan memaksimalkan pemanfaatan teknologi yang ada. Alhasil, pandemi ini tidak memberikan dampak yang terlalu signifikan pada pendapatan komunitasnya. Alfonsa juga berpesan bahwa dalam menjalankan bisnis pariwisata di tengah pandemi ini, yang terpenting adalah kesehatan dan terus mencoba untuk berinovasi.


2. Doris Bill – Sales & Marketing Manager at Eurotour Ghana Limited (Ghana)

Bukan hanya Indonesia, pandemi juga memberi dampak yang hebat bagi pariwisata Ghana. Menurut Doris dalam ceritanya, pandemi ini membuat semua perjalanan wisata dan tiket penerbangan yang sudah dipesan harus ditunda bahkan dibatalkan. Hal tersebut tentunya berdampak pada pendapatan perusahaannya.


Namun tidak ingin terus terpuruk, Doris mencoba melakukan beberapa hal untuk terus bisa bertahan dimasa pendemi ini, seperti mencoba menerima kondisi, mendekatkan diri kepada Tuhan, memanfaatkan waktu untuk quality time, mencari motivasi, meningkatkan kompentensi diri, serta menciptakan inovasi untuk pekerjaannya, salah satunya dengan lebih memanfaatkan teknologi digital.


3. Nino Chkhaberidze – Co-founder of Sight Georgia (Georgia)

Nino perempuan pecinta dan pegiat wisata dari Georgia, juga menceritakan hal serupa dengan dua narasumber sebelumnya tentang dampak pandemi bagi negaranya. Nino melihat bahwa perempuan adalah salah satu yang paling banyak menerima dampak pandemi di Georgia, mulai dari mengalami KDRT, harus berusaha keras mencari pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, mengalami masalah kesehatan mental, hingga hilangnya pekerjaan bagi perempuan yang bergerak diindustri pariwisata.


Melihat kondisi tersebut, Nino tidak hanya diam saja, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk terus menjalankan bisnis pariwisatanya. Melalui Sight Georgia, ia mencoba meyakinkan masyarakat untuk menikmati wisata dalam negeri yang mereka miliki, sehingga diharapkan mampu membantu roda perekonomian mereka agar terus berjalan.


4. Devika de Alwis-Saelen - General Manager of Avani Bentota Resort and Head of Operational Excellence in Serenbid Leisure Management LTD (Sri Lanka)

Sri Lanka juga tak jauh berbeda dari ketiga negara sebelumnya. Devika mengatakan bahwa pendemi ini mengakibatkan hilangnya pendapatan yang diperkirakan mencapai lebih dari USD 300 miliar, dan 20-30% pekerja pariwisata kehilangan pekerjaannya.


Namun Devika tidak lantas menyerah, ia yang bergerak dibidang perhotelan terus berupaya beradapatasi dengan kondisi. Menurutnya hal yang paling penting bagi industri perhotelan dan pariwisata dimasa pandemi adalah untuk terus memastikan hotel mereka punya standar kebersihan dan kenyamanan serta terus menerapkan protokol kesehatan. Kunci bagi dirinya untuk bisa menghadapi pandemi ini adalah mudah beradaptasi, mau belajar, optimis, dan selalu berterima kasih pada siapapun yang mendukung tujuan kita.


Diakhir acara, keempat perempuan hebat tersebut menyampaikan beberapa kunci untuk terus bisa bertahan di tengah pandemi bagi seluruh peserta terutama perempuan-perempuan yang bergerak dibidang pariwisata, “Stay healthy, keep going on your work, keep connecting, support each other and always remember that you are strong, but together we are stronger.”/LISA/

26 views0 comments